Wheewww!!! Minggu ini tuh minggu yang sangat melelahkan, membingungkan, dan misterius. Minggu ini aku beneran masuk klub fotografi yang memang sudah aku incar tapi kubatalkan gara-gara ada si Oliver tau aku akan masuk situ dan jadinya mengambil ekskul ganda yaitu basket dan fotografi. Ini gara-gara klub majalah yang tadinya kumasuki penuh dan aku dilempar ke klub fotografi . Aaahhhh. Kenapa hidupku dipenuhi dengan oliver oliver dan oliver? Gak itu aja ya. Minggu ini juga ketauan klo kak Reno pelatih basket yg baru which is pelatihnya si Tim-Tim itu mantanya fra. Shock banget parah. Menurutku mendingan si Fra jadian ama Tim-Tim daripada kak Reno. Kan lebih cocok hehe.
Ternyata si Fra masuk ekskul basket sama Tim-Tim + Oliver :O kaget banget d. Hari ini ada ekskul jadi semuanya siap-siap. Karena basket + fotografi waktunya barengan si Oliver ikutnya selang-seling. Minggu ini basket dan minggu depan fotografi. Begitu terus. Aku pun mulai bersiap-siap. Hari ini anak-anak ekskul fotografi boleh foto apapun. Jadinya aku segera ke lapangan basket.
"FRAAA!!!!", panggilku
"Hi Giu!!! Kok bisa sampe sini?"
"Hari ini boleh foto bebas sih. Gw foto lo aja ya"
"Ahh jadi malu. Gw jadi salting wkwkwk"
Tiba-tiba si Tim-Tim + Oliver nyamperin
"Hi! Did u miss me?", Oliver kepedean
"Hah? Gk slh? Lo kali yg kangen ama gw"
"Gw masih nunggu jawaban lo loohhh"
"Hmm nanti-nanti aja deh ya"
"Ngapain lo ke sini?", tanya Tim-Tim dengan tampang yang super gak nyantai
"Suka-suka gw kali mau ke mana aja. Emang sekolah punya nenek moyang lo? Klo iya berarti punya nenek moyang gw juga"
"Gak jelas deh lo"
"SUKA-SUKA. Lgan lo ngapain cb JB JB d sini hah?"
"...." Tim-Tim gak bisa ngomong.
PRRIIIITTTT peluit si ex-boyfriend nya Fra menandakan mereka harus ngumpul dan aku ditinggal sendirian. Jadilah aku foto-foto anak-anak klub basket. Kasian Fra. Dia terpaksa masuk ekskul basket gara-gara disuruh guru karena dia gak punya ekskul. Padahal di situ ada Timo + kak Reno yg dia benci.
Tiba-tiba entah kebetulan atau enggak waktu aku lagi foto-foto tiba-tiba kameraku menangkap Oliver. Dia lagi nengok ke arahku.
"Giuuu!!!!"
"Apa lo? -.-"
"Gw tau lo tadi foto gw. Ngefans ya? Gw ganteng ya?"
"EW berharap banget lo"
Tiba-tiba Fra nimbrung "ciiiieeeee Giu. Gw gk nyangka. Udh terima aja"
"Hiiihhhhh", balasku. Semua anak basket memandang ke arahku. Mukaku berasa panas.
"Ahh berisik banget sih lo. Dateng-dateng bikin rusuh mending lo pergi deh.", Timo nimbrung
"SUKA-SUKA", balasku
Tiba-tiba dari belakang Timo, "heh!!! Kalian berisik banget deh. Sekarang kalian ber 4 lari 10 kali lapangan!"
Timo yang gak tau langsung jawab, "apa sih sok ngatur-ngatur deh."
"TIMO. Kamu lari 15 kali lapangan atau saya keluarkan dari tim", suara kak Reno menggelegar.
Timo langsung balik badan dan langsung melihat kak Reno yang mukanya udah super bete. Tiba-tiba aku langsung nyadar ada sesuatu yang janggal dari perkataan kak Reno. Dia bilang ber 4? Jelas-jelas yang ikut klub cuma Fra, Timo, Oliver. 1 lagi siapa?
"Kak yang 1 lagi siapa? Katanya ber4?" tanya Oliver.
"Tuh kamu yang disitu juga harus ikut lari." kata kak Reno sambil menunjukku.
"Hah? Saya? Saya kan gak ikut basket." balasku. "Kamu memang gak ikut basket tapi kamu bikin rusuh. Sana lari atau saya laporkan ke pembimbing fotografi"
Kita ber 4 langsung lari keliling lapangan. Ternyata kak Reno emang bener-bener nyebelin. Aneh Fra bisa jadian sama si RenRenoRese. Ternyata si RenoRese lebih nyebelin daripada Tim-TimTimo.
"Ah gara-gara lo kan Giu", Timo ngedumel.
"Yeh siapa yang suruh lo ikut-ikut nimbrung? Gak ada kan? GAK ADA", balasku.
Timo gak bisa jawab apa-apa.
"Aduh gila 10 kali lapangan tuh jauuuuhhhhh banggggeeeeetttttt", kata Fra
"Serius Fra? Aduh mana kuat gw", kataku
"Tenang Giu. Kan ada gw. Lo pasti kuat. Kan I'm your mood booster", kata Oliver sok pede.
Ya ya ya Oliver apa kata lo deh balasku dalam hati karena udah males bales Oliverpedemodeon.
Senin, 01 November 2010
The Best of Us - Giusepina
Kamis, 02 September 2010
The Best of Us - Fransisca
Bicara tentang ekskul, tadinya aku dan Giu mau bergabung dengan ekskul fotografi. Namun, dikarenakan Oliver masuk ke eksul itu juga. Tadinya kami mau masuk fotografi karena senior-senior fotografi rada errrr… bertampang lumayan. Buktinya Oliver, pacar Giu (Well, belum pacar juga sih Cuma dari kedua pihak tampaknya sudah positif. Apalagi minggu kemarin aku melihat mereka gendong-gendongan) masuk fotografi.
Enough about extracurricular, hari ini aku dan Giu akan pulang bareng! Yeay! Dan aku dikasi ijin sama Ibu buat nginep di rumah Giu this weekend. Aku bilangnya sih mau kerjain homework dari Ma’am Mariana, tapi nanti pasti kami akan marathon DVD. Jadi, hari ini dari sekolah aku langsung ikut mobil Giu. Untung Pak Adi, supirku, berbaik hati mau membawakan perlengkapan untuk menginap yang sudah disediakan Ibu.
“Fra, jadi kan ke rumah gue?”
“Jadi dong! Harus jadi.”
“Sip sip. Tapi…..”
“Apaan?”
“Gue disuru nyokap sekalian nunggu Timo gitu. Sorry ya. Gue janji dia gak macem-macem. Jadi dong ke rumah gue nyaaa.”
“Yah, ada dia gue males deh. Yauda sih cuma di mobil doang kan? Tenang aja pasti jadi.”
Siangnya, sesudah pulang sekolah. Aku dan Giu terpaksa menunggu Timo di pinggir lapangan yang panasnya luar biasa. Tadinya, kami mau duduk di cafeteria berhubung third grader lagi pada nongkrong disana otomatis kami minggir daripada kena masalah. Tapi ada untungnya juga sih, di pinggir lapangan ini kami bisa liatin muka-muka senior yang bertampang lumayan. Dan tiba-tiba aku menyadari yang menjadi coach baru anak basket adalah seseorang yang aku kenal.
*BUK* Bola basket yang diperebutkan oleh anak-anak basket mengenai kepalaku. Sakit banget.
“Sorry!”
“Ha? Sorry? Lo kira sorry cukup?!” balasku sengit sambil menengok ke orang yang sudah minta maaf tadi.
“Eh?? Hei.”
“Hhh. Hei.”
“Apa kabar?”
“Oh iya, baik kok. Gue.. gue kesana dulu ya.”
Akhirnya dengan sangat terpaksa aku memutuskan untuk ke cafeteria. Lebih baik dikerjain sama kakak kelas daripada mesti ketemu si jerk itu. Giu dengan terburu-buru menyusulku. Aku tahu Giu pasti bingung mengapa tadi aku langsung berlalu begitu saja.
“Napa lo? Si Timo udah selesai. Yuk langsung ke mobil gue aja.”
Aku pun menurut Giu. Aku mengikuti Giu ke mobilnya sambil berharap gak ketemu si jerk lagi. Begitu sampai di mobil Giu, Timo sudah duduk di bangku sebelah supir. Aku dan Giu duduk di jok belakang.
“Hai, Fra.”
Tumben banget nyapa. Biasanya aja cuek luar biasa.
“Eh, hai juga.”
“Sorry ya tadi gue gak bisa nangkep bolanya tepat waktu. Jadinya kena pala lo. Masi sakit gak?”
“Iya gakpapa kok. Udah gak terlalu sakit sih. Cuma gue rasa gue hamper geger otak ringan deh secara itu bola kenceng banget.”
“Haha, lebay lo. Sorry ya sekali lagi. Itu bukan salah Kak Reno, jadi lo gak usah marah-marah sama dia ya, Fra.”
“Eh? Iya.”
“Oh iya, Fra. Lo kenal coach anak basket?” kata Giu yang sejak tadi gak ngomong apa-apa
“Hah? Iya-iya.”
“Kenal dari mana?” gantian Timo yang mengintrogasiku
“Hah? Err. Iya. Itu.”
“Apaan sih yang jelas dong?!!” judesnya Timo muncul juga
“Err. Iya, he used to be my bro’s best friend and my… my… my... boy”
Rabu, 11 Agustus 2010
Jumat, 06 Agustus 2010
The Best of Us - Giusepina
“AAAAAHHHHHHH!!!!!”
“Giu, kamu kenapa?” mama menyerbu masuk kamar.
“Aku terlambat ma. Kok tadi gak ada yang bangunin?”
“Abisnya kamu keliatan cape banget sih Giu.”
AAAAHHHH aku terlambat ke sekolah. Aku pun segera bergegas sebelum keterlambatanku semakin parah. Setelah rapi cepet-cepet aja aku ke luar. Tapi kenapa gak ada pak Eko?
“Mbak Siti! Pak Eko mana?”
“Pak Eko lagi sakit non.”
G-R-E-A-T. Kenapa hari ini nasib gak berpihak ke aku sih. Saking putus asanya aku langsung aja lari ke sekolah. Emang sih jarak dari rumah gak terlalu jauh. But this is my first time to go to school by my feet. Tiba-tiba pas di jalan…
“GIU!!!”
dalam hati aku langsung berpikir “kayaknya ada yang manggil ya” tapi aku enggak dengerin dan masih terus lari aja. Tau-tau udah ada SUV hitam yang berenti di depan aku. Dan tebak siapa yg keluar! O-L-I-V-E-R.
“Giu! Dipanggil kok gak nengok sih?” oliver bertanya.
“Abis kirain siapa. Lo belom ke sekolah?”
“Gw kan nungguin elo. Ayo berangkat ama gw.”
“Gak apa-apa?”
“Ya iyalah”
“Ah enggak deh. Gw gak mau ngerepotin”
“Udah lo ikut aja” Oliver langsung menarikku masuk ke mobil.
15 menit kemudian kami sampai di sekolah. Jam sudah menunjukan pukul 08.40, which is berarti kita telat 10 menit. Dan aku dapat detention. Hari yang “SANGAT MENYENANGKAN”. Tapi untung detentionnya cuma disuruh lari lapangan 7 puteran. Tapi sayangnya aku harus lari bareng OLIVER. Dan tiba-tiba…
GEDEBUG!!!
“Giuuuu!!!”
“AAAWWW”
Hebat banget ya hari ini. Hari yang paling berkesan sedunia. Gak cukup-cukup ama kesialan yang tadi aja tapi aku pake harus jatoh segala. Dan si Oliver langsung nyamperin.
“Aduh Giu lo gak apa-apa? Yang mana yang sakit?”
“Ahhh kaki gw super sakit.”
Aku mencoba untuk berdiri tapi malah jatoh lagi. Itu super malu-maluin. Tiba-tiba si Oliver langsung ngegendong aku,
“OLIVER! Turunin gak?!”
“Udah lah lo kan gak bisa jalan.”
“Tapi turunin aja!!!”
“Gak mau :p”
Si Oliver pun menggendongku sampai ke UKS. Ngegndongnya tuh udah berasa kayak Prince Charming who saves a Princess. Pas jalan ke UKS kita ketemu Fra.
“Oh my Giu ternyata …” Fra mulai ngegodain.
“Ternyata apa Fra?”
“Kok gak bilang-bilang sih? Hehehe”
Si Fra malah ngegodain aku ama Oliver pula. Mana si Oliver cuma senyum-senyum kayak bahagia banget. Dasar cowo ANEH!
Sabtu, 10 Juli 2010
The Best of Us - Fransisca
*a few hours ago*
"Kak Timo!"
Timoleon berjalan tanpa menghiraukan panggilanku. Okay. Weirdo! Don't call me FRA kalo gakbisa bikin lo nenggok! Dengan kasar aku menarik tangannya.
"Apa sih lo?!"
"I've sumthin to tell you!"
"Apa?!"
"Gue pengen interview lo doang buat tugas. Itu doang."
"Ha! Kayak gue mau aja!"
"Ya itu kan udah kewajiban lo sebagai kakak kelas dong! Kasi contoh yang baik buat ade kelas!"
"Siapa lo?! Ngomong gitu ke gue! Udah bosen sekolah disini ya!"
"Siapa gue? Lo tuh budek ato apa sih! Nama gue Fra. Dan, iya! Gue bosen sekolah disini!"
"Yauda, lo keluar aja!"
"Iya tapi sebelom gue keluar. Gue. Harus. Interview. Lo!" Aku memberi penekanan pada setiap kata.
"Suka-suka gue kale kalo Gak. Mau. Diinterview! Minggir!" Dia membalas memberikan penekanan disetiap katanya.
G.O.D
I hate him so much. Di negara ini ada undang-undangnya gak sih bunuh kakak kelas sengak?! Well, sebenernya aku gak mau bunuh dia juga sih. Hina banget gak sih sampe bunuh-bunuh dia. Dan yang lebih aneh si Giu malah dukung aku bunuh ngebunuh dia. Giu kan sama Timo sodaraan, ya sodara gara-gara sama-sama Lumintang aja sih.
Okay. Stop talkin about him. Nanti dia geer. Aku harus muter otak untuk ngerjain tugasnya. Pilihan terakhirku jatuh kepada, NGARANG! Kalo Timo gak mau di interview aku akan ngarang tugasnya. Ngarang adalah pelajaran paling kusukai. I got A. (And once again it's not arrogant. It's confident:p)
5 menit berikutnya aku sudah berhasil membuat tugas Miss Ing dengan canggihnya. Karena kebohongan ini aku harus mengurangi gengsiku. Aku konfirmasi soal ini ke Timo lewat BBM. Kenapa? Karena aku bohong sama Miss Ing, aku harus kompak. Nanti dia bilang A aku bilang B. Bisa gawat.
FraW: gue udah bikin tugasnya. Gue ngarang. Jadi kalo lo ditanya sama Miss Ing, you'll say yes.
1menit, 2menit, 3menit, sampai menit kelima belom ada balesan. Menit keenam, messageku di read, tanpa balasan. Aku menganggapnya sebagai "yes, I will."
So I guess this is the end of this trouble. Ternyata tidak. I'm having another trouble.
Jumat, 02 Juli 2010
The Best of Us - Giusepina
Huh males banget deh harus senyum-senyum aneh di rumah gara-gara banyak banget yang dateng buat peresmian rumah. Mending keluar cari udara segar. Ya gak?! Tapi bosen juga lama-lama kalo sendirian. Andaikan ada pangeran berkuda putih yang dateng buat ngilangin rasa bosanku.
Pas keluar dari rumah aku gak tau mau pergi kemana. Aku pun berjalan ke manapun kakiku membawaku. Tiba-tiba aja aku udah ada di sebuah taman. Aku duduk aja di bangku taman sambil bengong-bengong gak jelas. Tiba-tiba ada BBM dari Fra yg masuk dan bikin aku kaget setengah mati.
FraW : Giu...... Tau gak lo? Kening gue kejedot pintu mobilnya si Timoleon Lumintang ini. Sakittttttt :(:'(
Giusepina : wah. Ati2 dong, Fra!
FraW : huhuhuhuhu. :(((
Giusepina : eh lumintang? Namanya lumintang?
FraW: iya.knp?
Giusepina : nama kayak nama nyokap gue! Selena Cecilia Lumintang
FraW: jangan2
Giusepina: GAK mungkin! Ogah punya sodara kayak dia, Fra!
Eeeewwwww gila aja klo aku sampe saudaraan sama orang kayak Timoleon. Gak banget.sambil merenungi nasib jika benar Timoleon masih bersaudara denganku tiba-tiba ada seorang anak laki-laki menghampiriku. Kelihatannya dia seumuran denganku. And the most important thing, he looks so cool dateng dengan setelan kemeja putih yg lengannya dilipet, celana panjang hitam, sneakers, dan iPod. Like a naughty boy who went to a party.
“Hi! Lagi bosen ya?” tanyanya.
“Iya. Btw, who are you?” jawabku.
“Gw juga lagi bosen nih. And I’m Oliver. You?”
“Giusepina, but you can call me Giu. Kok lo bisa nyampe d sini?”
“Tadi gw abis dari pesta di situ *sambil nunjuk rumah GIu* terus gw bosen jadi gw ke sini aja…”
“Oohh gitu”
Itu kan rumah gw. Berarti dia nganggep acara di rumah gw ngebosenin dong. Enak banget ngomong kayak gitu. Kalo gw yang ngomong sih gak apa-apa, secara gw yang punya rumah. Tapi kan dia bukan siapa-siapa di keluarga gw. Dasar gak sopan!!! Keren tapi gak sopan.
Tiba-tiba Giu nyadar dari tadi Oliver ngeliatin Giu.
“Apa liat-liat?”
“Lo lucu deh”
“APAAAA?!!”
Tiba-tiba ada mobil sedan hitam lewat di depan taman. Kayaknya tuh mobil familiar. Pernah liat di mana y? Sedan hitam yang tadi lewat berenti di depan rumah. Saking penasaran aku langsung lari pulang. Tiba-tiba ada yang nahan tanganku.
“Aahh Giu mau ke mana? Mending d sini aja temenin gw”
“Hah? Gw mau pulang”
“Ya udah gw ikut”
“Suka-suka lah”
Aku langsung lari pulang secepat-cepatnya. Oliver nyusul di belakang. Pas sampe di rumah. Aku langsung shock. Di dalam rumah ada si TIMOLEON!!!! Kayaknya…
“Giu kamu ke mana aja? Dari tadi mama cariin kamu.” Mama langsung menghampiriku.
“Umm… tadi aku nyari udara seger mi.”
“Pantesan. Oh iya kenalin Giu ini Timoleon sepupu kamu. Anaknya Om Daniel. Sepupunya mami itu loh Giu. Timo ini anak tante Giu”
“Jadi dia sepupuku ma?”
“Iya”
Aaaaahhhhh. Kenapa aku harus beneran sepupuan sama si sombong Timoleon ini? Kayak enggak ada orang lain yang lebih bagus aja buat jadi sepupuku.
“Loh Giu, ini siapa?”
“Aku Oliver Blythe Siddharta tante”
“Oh kamu anaknya Olivia ya?”
“Iya tante”
“Oh ya udah deh ya. Tante tinggal dulu. Jagain Giu ya Timo, Ver.”
Haahhh??? Ngapain banget sih mama suruh Timoleon ama Oliver jagain aku? Aku kan bukan anak kecil lagi yang gak bisa jaga diri. Tapi kesialanku gak sampe di situ aja. Tiba-tiba…
“Hi Timo” Oliver berkata.
“Hi Ver.” Jawab Timo
“Kok kenal?”
“Gw kan juga sekolah di La Madie” jawab Oliver.
“Dan dia masuk klub basket ama gw. Makanya perhatiin dong” sambar Timo
“Ya udah sih santai aja. Dasar sepupu galak”
“Apa lo bilang?”
“Apa aja boleh :p”
“Eh kurang ajar ya ama kakak kelas”
“Bodo amat”
“Aduh jangan berantem dong” kata Oliver.
“Tuh dia duluan” lanjutku.
“IH elo ya. Btw, Liz mana?” Timo berkata
“Tuh di situ” Oliver nunjuk ke ruang tamu.
Timo langsung main jalan aja ke tempat yang ditunjuk Oliver. Aku punya feeling ada sesuatu di antara Timo dan Kak Liz. Pengen nanya ke Oliver. Tapi gengsi. Jadi aku diem aja. Diam adalah emas kata orang-orang. Kediamanku memang membuahkan hasil hehehe.
“Giu, kok diem aja sih?”
“Gak apa-apa.”
“Umm… bosen ya. Gw ngiri deh ama Kak Liz. Dia banyak banget yang ngejar-ngejar. Si Timo aja ngejar-ngejar dia. Tapi gw, adenya. Gak ada cewe yang ngejar-ngejar gw. Padahal kan gw keren.”
“Kak Timo suka Kak Liz? Kak Liz kakak lo?”
“Iya. Lo baru tau?”
“Iya. Btw, buat statement lo yang tadi. Tolong ya jangan kege-eran, sok cakep. Bikin geli tau gak”
“Hehehe. Ya udah lo ama gw aja biar gw gak ke ge-eran.”
“….”
Senin, 31 Mei 2010
The Best of Us - Fransisca
Timoleon masuk ke ruang ganti cowok dengan langkah santai. Aku harus memperjuangkan kesempatan ini. Kalau perlu aku masuk ke ruang gantinya!
"Kak! Kak Timo! Kak!"
"Buset nekat amat lo sampe masuk sini?"
"Duh, demi nilai, kak. Tolong dong 5 menit aja, kak."
"Gakbisa. Gue udah bentar lagi mau tanding. Harus fokus latihan."
"Cie Tim bawa cewek masuk ruang ganti!" sahut temen Timoleon yang jahil.
"Tim, ini masi di sekolah tau! Udah kebelet banget ya, Tim!"
"Suit suit!"
Ini anak kelas dua belas kok kelakuannya seperti anak SD sih. Bodo deh. Demi nilai aku rela melakukan apa saja. Demi nilai! Si Timo-timo ini malah senyum-senyum gakjelas lagi bikin orang jengkel. Sekarang dia malah angkat telpon. Loh? Kok tiba-tiba dia berbalik kearah pintu keluar ruang ganti?
"Kak!"
"Apaan sih lo? Ikut-ikut gue terus?!?"
"Wawancara, kak!"
"Gakmau. Sekarang gue mau pulang. Nyokap gue marah!"
"Saya ikut mobil kakak deh!"
"Terserah lo deh!"
Aku pun memberanikan diri masuk ke mobil kak Timoleon. Demi nilai, Fra! Sahutku dalam hati. Antara sudah frustasi dan capek hati. Aku masuk ke mobil Kak Timo. Tiba-tiba pintu mobil itu tertutup.
JEDER! Keningku menabrak pintu mobil Kak Timo. Yaampun, jahat banget si itu orang. Sakit banget. Rasanya aku pengen nangis sejadi-jadinya. Dan sebutir air mata pun mengenang di pelupuk mataku.
"Sorry ya, siapa tadi nama lo? Cepet masuk. Jangan nangis aja." Kata Timoleon sedikit lembut (HANYA SEDIKIT! Padahal gara-gara dia keningku nyut-nyutan parah!)
"Fransisca Alberthine Yurista Wilman kak."
"Iya, Frans."
"FRA KAK!" Seruku
Moodku langsung drop. Entah kemana mobil Timoleon ini berpacu. Aku hanya diam. Sudah tidak ada kalimat demi nilai di sanubariku. Bodo amat sampe Miss Ing marah. Aku gak peduli. Lebih baik aku BBM Giu sekarang.
FraW : Giu...... Tau gak lo? Kening gue kejedot pintu mobilnya si Timoleon Lumintang ini. Sakittttttt :(:'(
Giusepina : wah. Ati2 dong, Fra!
FraW : huhuhuhuhu. :(((
Giusepina : eh lumintang? Namanya lumintang?
FraW: iya.knp?
Giusepina : nama kayak nama nyokap gue! Selena Cecilia Lumintang
FraW: jangan2
Giusepina: GAK mungkin! Ogah punya sodara kayak dia, Fra!
Akupun memberanikan diri menatap Kak Timo yang duduk disampingku sambil memperhatikan BlackBerrynya yang dari tadi bergetar. Kok dia sibuk banget sih dengan BlackBerrynya. (FYI, Kak Timoleon ini mukanya sangar tapi masi anak mami. Kak Timo pake supir! Hihi)
"Apa lo liat-liat gue! Gak suka!" Tantangnya
Mampus gue ketauan, seruku dalam hati.
"Oia! Lo ngapain ikut sama gue???"
"Kan mau wawancara kak!"
"Loh? Sejak kapan lo ikut gue?"
"Waktu saya kejeduk pintu mobil kakak kan! Kakak suru saya masuk!"
"Oia gue lupa. Duh, kok bisa tolol gini." Lanjutnya "Pak! Berenti sebentar dipinggir!"
"Aduh gakbisa ini dibelakang angkot. Kita bisa diamuk masa, Tim."
"Yauda nih kita anterin dulu si Frans. Ruma lo di mana? Wawancaranya besok aja dikantin jam 13.00 gakpake telat."
"FRA kak! Gakpake NS! FRAAAAAAAA!" Seruku frustasi.
"Iye apa kata lo! Ruma lo di mana!"
"Galak amat sih, Kak! Cewek nih! Di Jalan ??Ingleside blok C-5!"
"Ha? Ingle? Gue Eagle blok A-10. Sial amat rumah gue deket lo!"
Diam. Bukan berarti aku kalah. Aku diam meredam rasa furstasi dan amarah yang sedang memuncak dalam dada. Aku diam menghadapi cobaan Tuhan dalam bentuk Timoleon. Aku diam karena lebih baik diam dari pada Timoleon kubunuh ditempat.