Rabu, 22 Desember 2010

The Best of Us - Fransisca

Mulai besok untuk menghadapi final exam gak ada ekskul. Kalian harus belajar yg giat yaaa! Gluck
From: Reno

Setelah dapet jarkom dari Reno aku sungguh tenang. Sebelumnya aku memikirkan gimana sikapku didepan Reno setelah dia mengantarku pulang. Singkat cerita setelah kejadian itu terjadi beberapa awkawrd moment diantara kita berdua. Dia nge-add pinku, yang sebenernya aku males kasihnya, dia juga ngajak aku nonton Narnia, yang dia tau aku ngga ngikutin sama sekali,pernah dia ngasih aku minum sehabis latihan basket.
Sebenernya dari sejak pertemuan pertama sama dia (lagi) aku udah mau keluar dari ekskul basket. Mending ikut ballet deh yang isinya cewe-cewe tukang gossip semua, dari pada ketemu Reno. Maksudku aku bukannya belom maafin Reno tapi Reno semakin annoying karena ngganggep aku masih suka sama dia. Naruh harapan aja engga, masa dibilang masih suka. Hello, ini udah 2010 kaleee bentar lagi 2011 sikap Reno yang suka geer itu belum juga hilang.
Giu yang dari awal ngga suka dengan keberadaanya Reno gencar banget ngajak aku keluar dari basket. Aku juga sama sekali ngga ngerti peraturan-peraturan basket. Yang bener aja dong aku gitu, main bulutangkis aja engga bisa. Paling eeew deh sama y ang namanya olahraga. Kalo tweeting dianggep olahraga mungkin itu satu-satunya olahraga yang aku bisa.
Seharusnya aku ada di rumah dan belajar math and chemist. Tapi sekarang aku ada di rumah Giu sambil menonton DVD P.S. I Love You. Aku ijin sama ibu buat belajar bareng di rumah Giu, tapi karena kami berdua udah stres tingkat dewa akhirnya memutuskan nonton DVD. Orang tua Giu pergi ke luar negri untuk urusan bisnis yang mendesak. Di rumah, Giu dititipkan sama Timo. Bayangin dong bukannya kebalik ya Timo yang dijagain Giu. Kalian tau, Giu bilang padaku Timo itu selalu tidur dibawah jam 10 malam. Katanya untuk menjaga kesehatan kulitnya.
Well, kalian doain aku aja ya biar besok bisa menghadapi final exam. Karena sejujurnya aku sama sekali belum siap. Aku juga belum mempersiapkan alat tulis dan papan untuk besok. Lebih baik sekarang aku menikmati sisa hari ini dengan menonton DVD. Tiba-tiba ada yang menghampiri aku dan Giu.
“Hei, Fra.” Sapa Timo ramah.
“Ha?? Hei, Kak.” Balasku malas-malasan.
“Gue ikut nonton ya, di luar sepi. Takut.” Sambungnya.
OH GOD Timo selalu datang disaat yang tidak tepat!
Setelah Timo gabung bareng Giu dan aku, ia justru lebih terlihat friendly dan benar-benar berbeda dari sebelumnya. Mungkin gara-gara dia beneran takut. Di luar ujan dan petir menyambar-nyambar rumah Giu yang banyak barang-barang antiknya ini bener-bener jadi seserem rumah hantu di dufan (well, gak seserem itu juga sih).
*bunda calling*
“Hey, mom?”
“MAU PULANG JAM BERAPA! I KNOW YOU DIDN’T STUDY THERE!”
“Chill out, mom. Bentar lagi aku pulang kok.”
“OK, I PICK YOU NOW!”
“NO NO, MOM! Aku dianter Giu!”
“GAUSAH TERIAK FRANSISCA, I CAN HEAR YOU!”
“OKAY! BYE! LOVE YOU!”
“LOVE YOU MORE!”
Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Untung tadi siang udah ngerti logaritma dan kawan-kawan. Pulang ke rumah aku udah siap tidur ini. Cape banget seharian main bareng Giu dan Timo(ew).
“Siapa? Your mom?” tanya Timo yang dari tadi memperhatikanku.
“Yeah, you know she’s worrying ‘bout me.”
“Haha, no wonder. Anaknya yang cantik di luar rumah jam segini.”
“Sorry, Tim. I can’t hear you. What did you say? Ada thunder tadi.”
“Uhm, nothing.”
Tidak jauh dari kami ada Giu, dia menatapku penuh arti.
“What?”
“Nothing hahaha.”
“There must be something. Yuk, anterin gue pulang.”
“Tim, can you drive Fra home?”
“Hmm. Sure.”
Wait! What? Aku dianter pulang Timo? Mau diinterogasi apa sama Bunda! 20 menit berikutnya kita udah sampe di depan rumahku. Ujannya gede banget. Mau suruh Timo cepet pulang juga ngga enak. Apa boleh buat aku ajak dia masuk kedalam.
“Mom? Are you there?”
“Are you going to introduce me to your mom?”
“Iya as kakak senior yang nyebelin.”
“I drove you home!”
Aku mulai ga peduli dengan keberadaan Timo. Ada suara berisik dari ruang keluarga. Kayaknya bunda lagi pada nonton deh. Aku memasuki ruang keluarga. Celaka dua belas di ruang keluarga ternayata ada om dan tante serta saudara sepupuku dan juga Mas Davis kakak laki-lakiku. Mas Davis itu sekolah di Prancis. Dulu dia maunya dipanggil Ko Davis, sekarang maunya dipanggil mas biar Indonesia sekali. Mentang-mentang di negri orang rasa nasionalisnya tinggi. Sekarang dia lagi libur Natal dan tahun baru jadinya pulang ke Jakarta.
“Mom, I’m home.”
“Yaaa, I can see you.” Kata bunda seraya menghampiriku.
“Ça fait longtemps qu'on ne s'est pas vu. Maintenant, vousramener à la maison garçon.”1
“Long time no see, mas! I miss you very much!” kataku sambil memeluknya.
“Ma petite sœur est grandissant. Elle a déjà un petit ami.”2
“Non, je ne suis pas son petit ami.”3 Balas Timo yang dari tadi dia disampingku.
“Wow, you can speak in French!” kata mas davis seraya menghampiri Timo.
“Yeah, sure i can. Hahaha. Mon nom est Timo4, nice to meet you.”
“Nice to meet you too. Si vous êtes son ami, je ne suis pass'inquiéter5”
Great sekarang kedua cowok didepanku ini ngomong pake bahasa alien yang aku ngga ngerti. Mereka berdua langsung terlihat akrab dan herannya mereka punya banyak kesamaan.
“Fra, go to your room now! Continue study math.”
“Ugh, okay mom.”
“De bawa aja sini matnya belajar bareng sama Timo.”
“Ha? Grade eleven kan gak ulangan?”
“C’mon, Fra. I can teach you.”
WHAT? WHAT DID HE SAY? I CAN TEACH YOU? Hello, amnesia kali dia. Dia itu udah nolak mentah-mentah permintaanku buat wawancara dia. Sekarang mau ngajarin. Gak salah denger?
“I think Mas Davis can teach me. You better go home. I think Giu is waiting for you.”
Itu kalimatku yang terakhir untuknya hari ini. Aku langsung lari keatas. Dia pikir aku lupa apa gara-gara dia dahiku sakit, gara-gara dia aku terancam dapet nilai jelek karena gak mau diwawancara. I think he’s getting more annoying gara-gara diaudah kenal sama keluargaku bukan berarti langsung bikin dia baik dimataku. Huh, I better go to sleep right now.

1. Long time no see. Now, you bring boy home.

2. My little sister is growing up. She already has a boyfriend.
3. No, I’m not her boyfriend.
4. My name is Timo.
5. If you are her boyfriend I'm not worry.

Kamis, 09 Desember 2010

The Best of Us - Giusepina

I hateee kak reno si coach basket gk becus. Jelas-jelas aku enggak ikut klub basket tapi dia berani-beraninya menghukum aku buat lari lapangan. Mending larinya cuma 1x lapangan, dia malah nyuruh 10x lapangan. Gk tau apa kalo lapangan di sekolah bergengsi kayak La Madie gini sangat teramat besar. Aku heran kenapa sekolah sebagus La Madie bisa mengizinkan si reno coaching basket di sini. Memangnya enggak ada coach yang lebih bagus dari dia. Kayaknya banyak deh ya. Untung aja si Fra udah putus ama dia. Benar saja kalo aku bilang biarpun Timo super ngeselin sok cool gitu tapi dia jaaauuuuhhhhh banget lebih mending daripada si Reno. Apa coba lebihnya Reno sampe Fra bisa suka sama dia. 

Gk cuma sampe di situ aja kekesalanku. Tapi waktu sampai di rumah aku dikasih tau mama kalo mama sama papa akan berangkat ke London karena ada urusan. Dan mereka gak ngebiarin aku tinggal di rumah sendirian sama Mbak Siti + Pak Eko. Dan akhirnya mereka suruh Timo tinggal di rumahku untuk sementara waktu karena ternyata orang tua Timo juga akan pergi ke London bersama mama dan papa. Kenapa dewi keberuntungan gak pernah berpihak ke aku sih?

Sore hari Fra nge-BBM aku. Dia nyeritain semua yang dia alamin waktu pulang sekolah. Tiba-tiba bel rumahku berbunyi. Dan ternyata oh ternyata itu adalah si Tim-Tim. He moves to my house this evening. Barang bawaannya banyak banget udah kayak mau pindah rumah aja. Kata mama dia akan tidur di kamar tamu. Aku langsung inget ama BBM Fra. Aku langsung nyamperin Timo.
"TIMO!!! Kenapa lo sering bikin Fra kesel? Ckckck lo caper ama Fra ya? Suka ya?" sambarku langsung.
"APA?? Kuping gw jadi budeg sekarang. Sejak kapan gw suka ama Fra?" jawabnya.
"Abis lo suka banget bikin Fra kesel. Caper banget sih lo."
"Siapa yang bikin Fra kesel hah? Dia sendiri aja yg sering kesel sendiri tanpa alasan"
Tiba-tiba mama dateng.
"Tante," sapa Timo dengan sok ramah. Jelas banget kalo itu cuma dibuat-buat.
"Hi Tim. Papa mama kamu udah siap kan. Sebentar lagi kita akan ke airport," balas mama.
"Udah kok tan. Mereka udah nunggu di rumah"
"Ma, aku boleh ikut nganterin gak?" aku gak mau ditinggal di rumah sama Timo -_-
"Gak usah sayang. Besok kan kamu sekolah. Baik-baik ya di rumah. Timo, jagain Giu ya. Mama pergi dulu ya Giu"
"Hati-hati di jalan ya ma," balasku.
Setelah itu aku berbalik ke Timo, "I'll be back!!! Pembicaraan kita belom selesai"
"Ya ya whatever. Suka-suka lo deh," balasnya.
Akhirnya mama dan papa pergi menjemput orang tua Timo untuk pergi ke airport bersama-sama. Gak berapa lama tiba-tiba bel rumahku bunyi lagi. Siapa sih yang dateng malam-malam gini?

Tiba-tiba...
"Non, ada Den Oliver Non," lapor Mbak Siti kepadaku.
"Dia mau nyari Timo kali mbak"
"Nggak kok Non. Wong Den Oliver sendiri toh yang ngomong mau ketemu Non Giu. Tapi Den Timo juga udah di ruang tamu sama Den Oliver"
Akhirnya mau gak mau dengan malas-malasan yang super malas aku pergi ke ruang tamu. Di sana aku sudah menemukan Oliver dan Timo udah ngobrol. Abis ngeliat itu aku langsung balik badan mau balik ke kamar. Tapi...
"GIU!!!" Oliver mengetahui keberadaanku.
"Apa?" Balasku berusaha sinis.
"Mau ke mana?"
"Mau ke kamar. Kenapa? Gak suka?"
"Yaaahhhh. Gw udah susah-susah dateng ke sini"
"Emg lo mau ngapain sih?"
"Ngobrol-ngobrol aja"
"Udah ngobrol ama Timo aja," aku langsung balik badan sudah berniat buat balik ke kamar.
Tapi, tiba-tiba ada yang menahan tanganku...

Kamis, 11 November 2010

The Best of Us - Fransisca

“Belom pulang?” tanya seseorang di belakangku.

“Ujan.” Jawabku tampa menoleh kepada yang bertanya.

Sore ini aku baru pulang latihan basket, well sebenarnya aku gak mau ikut ekskul tapi Ma’am Maria memasukkanku ke ekskul ini. Mungkin Ma’am Maria tidak tahu kalo aku drible bola aja ga bisa. Sebelum Reno masuk menjadi coach, belum banyak anak kelas 1 yang minat dengan basket. Sejak Reno masuk jadi coach, semua berbondong-bondong masuk. Mereka belum tau dalemnya si Reno aja. Blah.

“Yuk, pulang bareng.” Dia lalu menarik tanganku.

Sebelum aku menepis tangannya, ada seseorang datang dari belakang dan menarik tangan kiriku.

“Sorry, coach. Dia sama gue.” Kata Timo.

HA? TIMO? KOK DIA BISA ADA DISINI?

“Oh ya? Emang bener, Fra?”

Aku yang bingung mau menjawab apa hanya mengangguk tanda setuju.

“Oh gitu ya, Fra? Saya duluan deh kalo gitu.” Kata Reno dengan nada kecewa.

Sebenarnya aku jadi merasa bersalah dan gak enak sama Reno. Apalagi sekarang Timo masi menggandeng tangan kiriku.

“Lepasin tangan gue, ngapain dipegangin terus.”

“Lo yang duluan megang tangan gue ya!” Aku langsung menepis tangannya.

“Ayo cepet deh pulang! Mau gak?” tukasnya.

“GAK MAU! ORANG LO DULUAN YANG GANDENG GUE!” teriakku kesal.

“YAUDA SIH! GOSA TERIAK JUGA KALE!”

Saking kesalnya aku sama Timo hampir aku lempar tas basketku yang beratnya sepertiberas 5kg kemukanya. Gara-gara Timo dan aku teriak tadi semua orang langsung melihatku heran. Ini bukan sinetron gak mutu yang sekarang banyak di tv lokal, ini real Timo yang antagonis ada di dunia ini beneran. Seharusnya aku gak usah nolak tawaran Reno tadi. Aku berubah pikiran sekarang, se-jerknya Reno he is better than Timo.

Setelah kutinggalkan Timo sendiri, aku langsung berlali menerobos hujan menuju parkiran untuk menyusul Reno yang kurasa belum jauh. Mobil Reno masi terpakrir, kurasa dia menunggu sesuatu karena mesin mobilnya sudah hidup namun ia tidak beranjak dari situ.

“REN! Ren! Sorry gue bisa nebeng gak?”

“Sure, sini masuk aja.”

Reno membukakan pintu sebelah kiri untukku. Aku masuk dengan badan sedikit basah karena berlari menerobos hujan.

“Sorry, Ren.”

“That’s ok, Fra.”

Dia lalu menjalankan mobil keluar dari lapangan parkir Lamadie yang kurasa seluas lapangan bola ini.

“Rumah lo masi sama kan? Hahahaha.”

“Menurut lo? Hahahaha.”

“Sorry gue Cuma mau nanya. Lo sama Timo ada hubungan apa?”

“Well, dia itu sepupunya temen gue. Itu doang, gak lebih. And by the way, Giu temen gue dari club fotografi itu sebel sama lo. Dia kesel gara-gara lo suru dia lari. Hahahaha!”

“Really? Hahaha. Yauda tar lo tunjukkin dia, gue mau minta maaf deh.”

2 menit berikutnya kami hanya berdiam, suasana di mobil benar-benar menakutkan. Hujan tambah deras banyak petir dan lebih parahnya banjir. Kawasan Lamadie mugkin gak banjir, tapi jalanannya itu yang banjir. Ditambah macet ibu kota di saat hujan seperti ini bikin tambah emosi. Namun sifat Reno yang sabar belum juga berubah dari dulu. Dengan sabarnya dia mengemudikan mobil menuju rumahku. Satu jam berikutnya aku sudah ada di depan rumah.

“thank you ya, coach Reno. Hahaha”

“Anytime, Fra.”

Saat aku mau keluar dari mobilnya, sekali lagi dia menahannku. Langsung aku tepis tangannya agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

“Hmm sorry. And Fra gue mau minta maaf.”

“Soal apa?”

“Yang lalu-lalu, gue yakin lo tau maksud gue tadi,” lanjutnya “Jadi gini,...”

“Gosa lo jelasin deh, Ren. Gue maafin kok.”

“Really?”

“Really.”

“Fra, please answer this. Do you forgive me wholeheartedly?”

“Hmm, yes.”

Sebenarnya dalam benakku sendiri aku juga masi bingung sih. Do I forgive it or just forget it? Mungkin jawabannya hanya aku dan Tuhan yang tahu.

Senin, 01 November 2010

The Best of Us - Giusepina

Wheewww!!! Minggu ini tuh minggu yang sangat melelahkan, membingungkan, dan misterius. Minggu ini aku beneran masuk klub fotografi yang memang sudah aku incar tapi kubatalkan gara-gara ada si Oliver tau aku akan masuk situ dan jadinya mengambil ekskul ganda yaitu basket dan fotografi. Ini gara-gara klub majalah yang tadinya kumasuki penuh dan aku dilempar ke klub fotografi . Aaahhhh. Kenapa hidupku dipenuhi dengan oliver oliver dan oliver? Gak itu aja ya. Minggu ini juga ketauan klo kak Reno pelatih basket yg baru which is pelatihnya si Tim-Tim itu mantanya fra. Shock banget parah. Menurutku mendingan si Fra jadian ama Tim-Tim daripada kak Reno. Kan lebih cocok hehe.

Ternyata si Fra masuk ekskul basket sama Tim-Tim + Oliver :O kaget banget d. Hari ini ada ekskul jadi semuanya siap-siap. Karena basket + fotografi waktunya barengan si Oliver ikutnya selang-seling. Minggu ini basket dan minggu depan fotografi. Begitu terus. Aku pun mulai bersiap-siap. Hari ini anak-anak ekskul fotografi boleh foto apapun. Jadinya aku segera ke lapangan basket.

"FRAAA!!!!", panggilku
"Hi Giu!!! Kok bisa sampe sini?"
"Hari ini boleh foto bebas sih. Gw foto lo aja ya"
"Ahh jadi malu. Gw jadi salting wkwkwk"
Tiba-tiba si Tim-Tim + Oliver nyamperin
"Hi! Did u miss me?", Oliver kepedean
"Hah? Gk slh? Lo kali yg kangen ama gw"
"Gw masih nunggu jawaban lo loohhh"
"Hmm nanti-nanti aja deh ya"
"Ngapain lo ke sini?", tanya Tim-Tim dengan tampang yang super gak nyantai
"Suka-suka gw kali mau ke mana aja. Emang sekolah punya nenek moyang lo? Klo iya berarti punya nenek moyang gw juga"
"Gak jelas deh lo"
"SUKA-SUKA. Lgan lo ngapain cb JB JB d sini hah?"
"...." Tim-Tim gak bisa ngomong.

PRRIIIITTTT peluit si ex-boyfriend nya Fra menandakan mereka harus ngumpul dan aku ditinggal sendirian. Jadilah aku foto-foto anak-anak klub basket. Kasian Fra. Dia terpaksa masuk ekskul basket gara-gara disuruh guru karena dia gak punya ekskul. Padahal di situ ada Timo + kak Reno yg dia benci.

Tiba-tiba entah kebetulan atau enggak waktu aku lagi foto-foto tiba-tiba kameraku menangkap Oliver. Dia lagi nengok ke arahku.
"Giuuu!!!!"
"Apa lo? -.-"
"Gw tau lo tadi foto gw. Ngefans ya? Gw ganteng ya?"
"EW berharap banget lo"
Tiba-tiba Fra nimbrung "ciiiieeeee Giu. Gw gk nyangka. Udh terima aja"
"Hiiihhhhh", balasku. Semua anak basket memandang ke arahku. Mukaku berasa panas.
"Ahh berisik banget sih lo. Dateng-dateng bikin rusuh mending lo pergi deh.", Timo nimbrung
"SUKA-SUKA", balasku
Tiba-tiba dari belakang Timo, "heh!!! Kalian berisik banget deh. Sekarang kalian ber 4 lari 10 kali lapangan!"
Timo yang gak tau langsung jawab, "apa sih sok ngatur-ngatur deh."
"TIMO. Kamu lari 15 kali lapangan atau saya keluarkan dari tim", suara kak Reno menggelegar.
Timo langsung balik badan dan langsung melihat kak Reno yang mukanya udah super bete. Tiba-tiba aku langsung nyadar ada sesuatu yang janggal dari perkataan kak Reno. Dia bilang ber 4? Jelas-jelas yang ikut klub cuma Fra, Timo, Oliver. 1 lagi siapa?
"Kak yang 1 lagi siapa? Katanya ber4?" tanya Oliver.
"Tuh kamu yang disitu juga harus ikut lari." kata kak Reno sambil menunjukku.
"Hah? Saya? Saya kan gak ikut basket." balasku. "Kamu memang gak ikut basket tapi kamu bikin rusuh. Sana lari atau saya laporkan ke pembimbing fotografi"

Kita ber 4 langsung lari keliling lapangan. Ternyata kak Reno emang bener-bener nyebelin. Aneh Fra bisa jadian sama si RenRenoRese. Ternyata si RenoRese lebih nyebelin daripada Tim-TimTimo.
"Ah gara-gara lo kan Giu", Timo ngedumel.
"Yeh siapa yang suruh lo ikut-ikut nimbrung? Gak ada kan? GAK ADA", balasku.
Timo gak bisa jawab apa-apa.
"Aduh gila 10 kali lapangan tuh jauuuuhhhhh banggggeeeeetttttt", kata Fra
"Serius Fra? Aduh mana kuat gw", kataku
"Tenang Giu. Kan ada gw. Lo pasti kuat. Kan I'm your mood booster", kata Oliver sok pede.
Ya ya ya Oliver apa kata lo deh balasku dalam hati karena udah males bales Oliverpedemodeon.

Kamis, 02 September 2010

The Best of Us - Fransisca

Akhirnya weekend datang juga! Murid-murid Lamadie diminta untuk memilih salah satu ekskul dari sekitar 10 ekskul yang ada. Karena boleh untuk tidak memilih ekskul aku memutuskan untuk tidak ikut saja. Apalagi, jadwal lesku yang padat. Bayangin ya les matematika-fisika-kimia hari Senin-Rabu lalu ada les biola dari hari Kamis sampai Jumat. Tadinya Ibu sudah menyuruhku berhenti les biola karena menurutnya skillku gak maju-maju semenjak dua tahun yang lalu aku mulai les ini. Tapi ayahku mendukung katanya “biar aja lah si Fra les. Tuh anak gak punya temen banyak kan.” Yaampun apakah segitu kupernya aku di mata kedua orangtuaku?

Bicara tentang ekskul, tadinya aku dan Giu mau bergabung dengan ekskul fotografi. Namun, dikarenakan Oliver masuk ke eksul itu juga. Tadinya kami mau masuk fotografi karena senior-senior fotografi rada errrr… bertampang lumayan. Buktinya Oliver, pacar Giu (Well, belum pacar juga sih Cuma dari kedua pihak tampaknya sudah positif. Apalagi minggu kemarin aku melihat mereka gendong-gendongan) masuk fotografi.

Enough about extracurricular, hari ini aku dan Giu akan pulang bareng! Yeay! Dan aku dikasi ijin sama Ibu buat nginep di rumah Giu this weekend. Aku bilangnya sih mau kerjain homework dari Ma’am Mariana, tapi nanti pasti kami akan marathon DVD. Jadi, hari ini dari sekolah aku langsung ikut mobil Giu. Untung Pak Adi, supirku, berbaik hati mau membawakan perlengkapan untuk menginap yang sudah disediakan Ibu.

“Fra, jadi kan ke rumah gue?”
“Jadi dong! Harus jadi.”
“Sip sip. Tapi…..”
“Apaan?”
“Gue disuru nyokap sekalian nunggu Timo gitu. Sorry ya. Gue janji dia gak macem-macem. Jadi dong ke rumah gue nyaaa.”
“Yah, ada dia gue males deh. Yauda sih cuma di mobil doang kan? Tenang aja pasti jadi.”

Siangnya, sesudah pulang sekolah. Aku dan Giu terpaksa menunggu Timo di pinggir lapangan yang panasnya luar biasa. Tadinya, kami mau duduk di cafeteria berhubung third grader lagi pada nongkrong disana otomatis kami minggir daripada kena masalah. Tapi ada untungnya juga sih, di pinggir lapangan ini kami bisa liatin muka-muka senior yang bertampang lumayan. Dan tiba-tiba aku menyadari yang menjadi coach baru anak basket adalah seseorang yang aku kenal.

*BUK* Bola basket yang diperebutkan oleh anak-anak basket mengenai kepalaku. Sakit banget.
“Sorry!”
“Ha? Sorry? Lo kira sorry cukup?!” balasku sengit sambil menengok ke orang yang sudah minta maaf tadi.
“Eh?? Hei.”
“Hhh. Hei.”
“Apa kabar?”
“Oh iya, baik kok. Gue.. gue kesana dulu ya.”

Akhirnya dengan sangat terpaksa aku memutuskan untuk ke cafeteria. Lebih baik dikerjain sama kakak kelas daripada mesti ketemu si jerk itu. Giu dengan terburu-buru menyusulku. Aku tahu Giu pasti bingung mengapa tadi aku langsung berlalu begitu saja.

“Napa lo? Si Timo udah selesai. Yuk langsung ke mobil gue aja.”

Aku pun menurut Giu. Aku mengikuti Giu ke mobilnya sambil berharap gak ketemu si jerk lagi. Begitu sampai di mobil Giu, Timo sudah duduk di bangku sebelah supir. Aku dan Giu duduk di jok belakang.

“Hai, Fra.”
Tumben banget nyapa. Biasanya aja cuek luar biasa.
“Eh, hai juga.”
“Sorry ya tadi gue gak bisa nangkep bolanya tepat waktu. Jadinya kena pala lo. Masi sakit gak?”
“Iya gakpapa kok. Udah gak terlalu sakit sih. Cuma gue rasa gue hamper geger otak ringan deh secara itu bola kenceng banget.”
“Haha, lebay lo. Sorry ya sekali lagi. Itu bukan salah Kak Reno, jadi lo gak usah marah-marah sama dia ya, Fra.”
“Eh? Iya.”
“Oh iya, Fra. Lo kenal coach anak basket?” kata Giu yang sejak tadi gak ngomong apa-apa
“Hah? Iya-iya.”
“Kenal dari mana?” gantian Timo yang mengintrogasiku
“Hah? Err. Iya. Itu.”
“Apaan sih yang jelas dong?!!” judesnya Timo muncul juga
“Err. Iya, he used to be my bro’s best friend and my… my… my... boy”

Rabu, 11 Agustus 2010

TWITTER

HEY FOLKS!

WE ARE ON TWITTER

PLEASE FOLLOW @bestiebestofus

TO GET MORE INFO OF OUR BLOG


LOVE,

CINDY-SONIA ♥

Jumat, 06 Agustus 2010

The Best of Us - Giusepina

Setelah kemarin mama menggelar syukuran, banyak hal terjadi di hidupku sekarang ini. Mulai dari si TIMO yg adalah sepupuku sampai OLIVER si freak BUUTTTTTT cute yang nembak aku. To be honest, sampai sekarang aku belom ngasih jawaban juga ke dia. Kira-kira apa yang akan terjadi besok ya?
“AAAAAHHHHHHH!!!!!”
“Giu, kamu kenapa?” mama menyerbu masuk kamar.
“Aku terlambat ma. Kok tadi gak ada yang bangunin?”
“Abisnya kamu keliatan cape banget sih Giu.”
AAAAHHHH aku terlambat ke sekolah. Aku pun segera bergegas sebelum keterlambatanku semakin parah. Setelah rapi cepet-cepet aja aku ke luar. Tapi kenapa gak ada pak Eko?
“Mbak Siti! Pak Eko mana?”
“Pak Eko lagi sakit non.”
G-R-E-A-T. Kenapa hari ini nasib gak berpihak ke aku sih. Saking putus asanya aku langsung aja lari ke sekolah. Emang sih jarak dari rumah gak terlalu jauh. But this is my first time to go to school by my feet. Tiba-tiba pas di jalan…
“GIU!!!”
dalam hati aku langsung berpikir “kayaknya ada yang manggil ya” tapi aku enggak dengerin dan masih terus lari aja. Tau-tau udah ada SUV hitam yang berenti di depan aku. Dan tebak siapa yg keluar! O-L-I-V-E-R.
“Giu! Dipanggil kok gak nengok sih?” oliver bertanya.
“Abis kirain siapa. Lo belom ke sekolah?”
“Gw kan nungguin elo. Ayo berangkat ama gw.”
“Gak apa-apa?”
“Ya iyalah”
“Ah enggak deh. Gw gak mau ngerepotin”
“Udah lo ikut aja” Oliver langsung menarikku masuk ke mobil.
15 menit kemudian kami sampai di sekolah. Jam sudah menunjukan pukul 08.40, which is berarti kita telat 10 menit. Dan aku dapat detention. Hari yang “SANGAT MENYENANGKAN”. Tapi untung detentionnya cuma disuruh lari lapangan 7 puteran. Tapi sayangnya aku harus lari bareng OLIVER. Dan tiba-tiba…
GEDEBUG!!!
“Giuuuu!!!”
“AAAWWW”
Hebat banget ya hari ini. Hari yang paling berkesan sedunia. Gak cukup-cukup ama kesialan yang tadi aja tapi aku pake harus jatoh segala. Dan si Oliver langsung nyamperin.
“Aduh Giu lo gak apa-apa? Yang mana yang sakit?”
“Ahhh kaki gw super sakit.”
Aku mencoba untuk berdiri tapi malah jatoh lagi. Itu super malu-maluin. Tiba-tiba si Oliver langsung ngegendong aku,
“OLIVER! Turunin gak?!”
“Udah lah lo kan gak bisa jalan.”
“Tapi turunin aja!!!”
“Gak mau :p”
Si Oliver pun menggendongku sampai ke UKS. Ngegndongnya tuh udah berasa kayak Prince Charming who saves a Princess. Pas jalan ke UKS kita ketemu Fra.
“Oh my Giu ternyata …” Fra mulai ngegodain.
“Ternyata apa Fra?”
“Kok gak bilang-bilang sih? Hehehe”
Si Fra malah ngegodain aku ama Oliver pula. Mana si Oliver cuma senyum-senyum kayak bahagia banget. Dasar cowo ANEH!