Akhirnya aku 'jadian' sama Oliver. Dia jadi sering dateng ke rumah. Nyamperin sambil bawa-bawa cokelat + bunga. Mama dan papa belum tau kalo aku sudah punya 'cwo' karena mereka masih belum pulang juga dari Prancis. Kenapa rasanya laammmaaaaaa banget mereka pulangnya. Aku jadinya masih harus terjebak berasama dengan Timo yang kayaknya sekarang suka Fra.
Tahun 2011 terasa begitu cepat. Tau-tau sudah bulan Februari dan hari ulang tahunku datang. Aku gak terlalu suka sama 'hari ulang tahun' karena 'hari ulang tahun' membuatku berasa tambah tua. Aku kayak kena dilemanya si Bella Swan yang gak mau tua gara-gara Edward Cullen. Tapi untungnya si Oliver gak kayak Edward yang umurnya sama terus. Untung umurnya selalu bertambah sepertiku. Jadi dilemaku gak separah Bella.
Hari itu aku masuk sekolah seperti biasa. Pergi ke sekolah bareng si Timo. Dan bukannya ngucapin happy birthday ke his beloved and lovely cousin, dia malah ngedumel.
"Adoh! Kenapa sih gw harus nganterin lo pagi-pagi?" gerutu Timo
"Ya udah sih. Kan lo juga sekolah," jawabku.
"Kata siapa gw mau sekolah?"
"Emang lo mau bolos?"
"Rencananya sih gitu. Tapi gara-gara lo semuanya GAGAL!"
"Parah banget sih lo"
"Emang pak eko mana sih?"
"Sakit"
"Kenapa lo gak nyetir sendiri?"
"Gak boleh sama mama"
"Aahhh. Tapi bisa kan?"
"Gak" balasku dengan super kesal karena Timo jadi cerewet kayak nenek-nenek.
"Ya udah nanti gw ajarin biar lo gak gannggu-ganggu gw kalo pagi"
"Terserahlah"
Akhirnya kita sampai di sekolah. Si Fra udah nungguin di tempat parkir.
Fra langsung nyamperin, "Giu!!! Happy birthdaaayyyy!!"
"Thank you Fraaa" balasku
Tiba-tiba Timo nyeletuk "emg lo ulang tahun ya Giu?"
"Gak tau!!!" Jawabku
"Ih gw nanya baik-baik ya" balas Timo
"Parah banget sih lo lupa ulang tahun sepupu lo ckckck" ujar Fra.
"....." Entah kenapa Timo jadi keliatan salting waktu Fra ngomong sama dia. Kayaknya ada udang di balik batu nih. Fra gak cerita apa-apa sih sama aku. Aku jadi teringat soal 2 hari yang lalu. Aku gak ketemu Fra sehabis istirahat. Selain itu aku juga gak ketemu..............Timo....... Terus besok paginya waktu aku bangun Timo + mobilnya udah gak ada. Dan sampai di sekolah Timo juga gak ada. FRA JUGA gak ada. Aku baru liat Timo tadi malem. Pulang ke rumah pake seragam tapi gak masuk ke sekolah. Dan Timo keliatan seneng banget. Pas ditanya bilangnya gak apa-apa dan gak kemana-mana. Bohongnya ketauan banget deehh. Ke mana coba si Timo kemaren. "Jangan-jangan dr 2 hari yang lalu sampai kemarin Timo sama Fra barengan?!" pikirku. Akhirnya aku dan Fra masuk ke kelas. Di perjalanan menuju kelas.
"Fra, 2 hari yang lalu lo ke mana deh? Kok abis istirahat gak keliatan sih? Bbm gw juga gak lo bales" tanyaku yang sudah hampir mati penasaran.
"Ohh. Kemaren pas istirahat gw ditabrak anak kelas a yang bawa bahan kimia gitu deh. Terus kaki gw berdarah. Pas di UKS gw disuruh ke rumah sakit. Jadi ya gitu deh," jawab Fra dengan santai.
"Terus sekarang lo gapapa?"
"Gapapa kok."
"Ohh jadi itu alasan kenapa kemaren lo gak masuk"
"Yoe hehehe."
"Kemaren si Timo juga gak masuk" pancingku karena firasatku tentang 'udang di balik batu'
"I know"
"Hah? How do you know?"
"He accompanied me"
"Ooohhhh"
"...."
"Jadi hari ini lo gak basket dong?"
"Gaklah. Mana bisa gw basket dengan kaki kayak gini. Tapi si Reno nyuruh gw duduk di pinggir lapangan biar gak lupa"
"Okay gw temenin ya?"
"Lo mau nemenin gw atau...."
"Atau apa?"
"Atau ngeliat cwo lo tuh si Oliver"
"Apa deh lo Fra"
Akhirnya pelajaran mulai. Hari ini banyak guru yang gak ngajar karena mereka lagi ngawasin anak kelas 3 yang lagi ujian praktek. Jadi jam pelajaran hari ini kerasa bentar. Sepulang sekolah aku dan Fra langsung ke lapangan basket. Di sana..
"Emang lo gak ada ekskul?" tanya Fra padaku.
"Gak tau deh. Kayaknya sih gak ada. Soalnya pembimbingnya sakit katanya" jawabku dengan santai.
Kita udah duduk di pinggir lapangan. Tiba-tiba Oliver + Timo masuk ke lapangan. Mereka pake seragam tim lengkap.
"Lho? Kenapa mereka pake seragam tim deh? Bukannya mereka pake tuh seragam cuma kalo lagi tanding ya?" tanyaku kebingungan.
"Kan hari ini ada sparing. Aduh Giu. Masa lo gak tau jadwal cwo lo sih ckck" canda Fra sambil sok geleng-geleng kepala.
"Giu! Wish me luck" celetuk Oliver dari tengah lapangan sambil melambai kepadaku.
"Ok" jawabku singkat. Mukaku berasa panas saking malunya. Gara-gara Oliver semua orang jadi liatin aku sekarang.
Dan tiba-tiba aku nyadar, waktu Timo masuk ke lapangan dia ngelirik Fra. Fra juga ngeliat ke arah Timo. Kayaknya firasatku soal "udang di balik batu" bener deh. Tiba-tiba Timo nyamperin Fra.
"Wish me luck" ucap Timo sambil ngeliat ke Fra.
"Hm" jawab Fra.
Timo langsung kembali ke lapangan.
"Uhuk uhuk. Ada obat batuk gak Fra? Kayaknya gw mulai batuk nih" godaku.
"Apa sih Giu, jangan bikin bete deh"
"Peace Fra. Damai heheh"
Pantes aja selama 2 hari belakangan ini kayaknya Timo berubah. Ternyata yang bikin dia berubah si Fra. Hebat banget. Padahal mama papanya Timo aja gak pernah bisa bikin Timo berubah.
Mereka tanding selama 3 jam. Dan hasilnya La Madie menaanngg. Waktu peluit berbunyi menyatakan pertandingan selesai dengan hasil La Madie unggul, Oliver langsung belari ke arahku dan memelukku. Dia gak nyadar apa kalo di situ banyak orang dan semuanya jadi ngeliat ke arah kita.
"O-L-I-V-E-R" ucapku.
"I win. We win. Happy birthday and this is your birthday present" balas Oliver.
"Ver, ini diliatin banyak orang. Thanks though" aku langsung tersipu.
"Gapapa lah"
"Malu tau"
"Ah biarin aja hehehe"
"Dan kamu basah semua. Keringetannn. Eeeww"
"Heheheh" balas Oliver dengan tampang yang sok innocent. "Aku bisa menang gara-gara kamu Giu. Karena kamu nonton aku. Jadinya aku semangat gitu. You are my mood booster." lanjutnya.
"Ahahha okay. Tapi sekarang lepas dulu ya. Kamu bener-bener basah semua." balasku sambil melepas pelukan Oliver. Semua orang masih ngeliatin kita. Dan itu sangat memalukan.
"We'll celebrate it this evening"
"Celebrate what?"
"YOUR birthday and MY champion"
"Hmm. Fine"
Akhirnya semuanya pulang. Oliver nganterin aku. Dia suruh aku siap-siap karena 'katanya' he'll be back. So, I'm getting ready. Jam 7 dia jemput. I wear a dress and he wears kemeja lengan panjang + celana panjang hitam. I love him looking like that. That's my favorite look of him. He reminds me waktu peresmian rumahku. He looks majorly cool.
"Kita mau ke mana?" tanyaku. I'm really clueless.
"We'll have dinner" jawabnya.
"Di?"
"You'll see"
Gak lama kita, nyampe di hotel berbintang 5.
"We're here" katanya sambil mengulurkan tangan buat ngegandeng. Bener-bener dengan gaya prince charming. Ckckck.
"Hmm"
Kita langsung ke resto. Ternyata Oliver udah booking tempat buat kita.
"Kita mau dinner di sini?" tanyaku masih kurang yakin.
"Iyalah Giu. Kalo gak ngapain aku ngajak kamu ke sini?" balas Oliver.
"..o..kay"
Di sana kita dinner. Dan tiba-tiba Oliver menyodorkan a blue box.
"Apaan tuh?" tanyaku
"Buka aja" jawabnya
Ternyata isinya kalung. Tulisan huruf 'O'.
"O?"
"Yeah. O buat Oliver hehe. Sini biar aku pakein."
"Namaku kan Giu with G not Oliver with O"
"Giu. Pleasee..."
"Haha okay. I'm just kidding"
"Sini aku pakein" sambung Oliver sambil berdiri dan masangin kalung di leherku. Selesai makan kita pulang dan Oliver mengantarku pulang. Sesampainya di rumahku dia turun untuk ikut mengantarku sampai ke depan pintu rumah.
"Bye my pretty princess. Good night and have a nice dream" kata Oliver. Kata-kata yang membuat jantungku berdebar dan membuatku tersipu malu.
"Okay. Don't make me salting please?"
"Ahaha it's really hard coz I enjoy it. Dan kamu cantik banget kalo lagi salting"
"Ohh PLEASE!"
"Nanti malem aku pasti mimpiin kamu"
"Ahahaha. No joking please"
"Aku serius kok"
"Okay. Bye"
"Bye" balas Oliver sambil ngasih ciuman kilat di dahiku. Sehabis itu dia masih nungguin aku di depan pintu sambil tersenyum manis sampai pintu rumahku tertutup rapat. Rasanya aku pingin teriak saking bahagianya. We're having so much fun that night. I have a great time. Oliver is kinda looks like prince charming today. And he's soo sweet.
Minggu, 13 Maret 2011
The Best of Us - Giusepina
Senin, 28 Februari 2011
Timo's side
"I'll do anything for you." Kataku mantap, heran dapat kekuatan dari mana untuk ngomong kayak gini.
Jujur, aku senang banget. Aku mulai dekat dengan keluarga, Fra. Terutama, Mas Davis yang kayaknya tahu kalo aku ada feeling sama Fra. Dia 100% mendukung langkahku ini. Aku dan Mas Davis have a lot of things in common. Dan yang paling penting he speaks French!
Oh ya, I'm over Liz. She always love somebody else not me. Lagian, tipenya Liz tuh udah gak sesuai lagi. Tipeku, yang radikal cuek jutek suka marah tapi aslinya baik dan perhatian. Which is bisa aku lihat dari Fra.
Awalnya, aku kira Fra gak kenapa-kenapa sama orang yang ngerokok. Tapi dari yang aku lihat dimatanya dia kok jadi 100% lebih jutek dari yang ada. Sebenernya aku juga gak sering kok ngerokok, jarang malah. Sebagai atlit basket bukannya dibutuhin nafas yang panjang ya? Kalo, tipe Fra tipe anak baik-baik yang alim dan kuper I'll make myself jadi tipe dia.
Setelah, mengantarnya pulang aku pamit pulang juga. Tampang Fra udah gak enak banget. Mungkin, masih marah. Sesampainya di rumah, aku berpikir keras alasan apa yang harus aku berikan kalo mau telpon Fra.
Dengan memberanikan diri aku keluarkan bb disaku celanaku. Dering pertama, dering kedua, dering ketiga baru diangkat.
"Halo?" Sapanya dengan suara lelah.
"Hai, Fra. Gue udah sampe rumah."
"Oh."
"In case you want to know, jadi gue kasi tau."
"Oh."
Ayo cari topik, Tim! Lo pasti bisa! Kataku dalam hati.
"Ehm, udah mandi?"
"Udah, lo?"
"Belom, kan baru sampe hehe. Udah mau tidur ya?"
"Iya, about to. Until someone's annoying call me."
"Gue? Sorry, ya."
"Ehm, iya."
"Okay, selamat tidur ya. Jangan lupa minum obatnya."
"Errr, iya. Lo juga selamat tidur tapi mandi dulu."
"Bye."
"Bye."
"Eh! Fra!"
"Lo paling bisa bikin orang kaget ya! Duh!"
"Besok gue jemput ya, bye!" Kataku sambil memutuskan telpon.
Sekarang aku mandi dan tidur dulu, besok harus bangun pagi dan dandan yang bener buat jemput, Fra! Adios!
Sabtu, 26 Februari 2011
The Best of Us - Fransisca
I need my holiday. like seriously, mataku masih butuh tidur banget. rasanya badanku lagi gak bersahabat hari ini. moodku juga berantakan. dan yang lebih parah aku jadi pelupa (emang sih udah suka lupa tapi ini lebih parah lagi)
"FRA! WATCH OUT!!!!"
*bruk*
"APAAN SIH GILA YA? gapunya mata lo ha? nabrak gue?"
"Sorry, Fra. Sumpah gak sengaja."
Ha. this is the worst day ever. anak class a menabrakku and he's carrying something for chemistry laboratory. Rok seragamku basah dan kaki kiriku mulai perih. yang lebih parahnya itu adalah cairan HCl yang bersifat asam. Dengan kesal aku melangkahkan kaki ke rest room Lamadie. karena ada pecahan dari burrette yang dia bawa kaki kiriku berdarah, dan darahnya gak mau berhenti. dengan kekelsalan stadium akhir aku melangkahkan kaki ke UKS. seorang guru penjaga menghampiriku dengan wajah cemas.
"Come, fast."
"Yes, Ma'am." jawabku singkat.
"What happend?"
"nabrak anak yang bawa solution dan kayaknya ada pecahan kacanya."
"Ok, hold on. tahan sebentar, saya akan mengeluarkan pecahannya."
setelah menunggu beberapa menit dia datang membawa perlatan seperti dokter. i'm wondering kenapa Lamadie bisa punya peralatan secanggih ini. sekarang giliran aku yang deg-degan sepertinya guru penjaga ini amatrian dan gak ngerti apa-apa. dengan kasar dia menarik pecahan kaca itu, alhasil kakiku tambah berdarah.
"udah deh ma'am. i'm going to hospital." aku mengambil bbku di saku celana.
"Halo Mas Davis? bisa jemput ga? sekarang. ada orang nabrak aku terus kakiku kena pecahan kaca. harus ke rumah sakit sekarang juga.parah nih."
"Parah? Banget? Gue minta Timo anter lo sekarang karena gue lagi di bakery nih bantuin bunda, gue secepatnya ke rumah sakit oke. take care."
"Halo? MAS? MAS?"
Sial! Dimatiin telponnya, gak berapa lama si Timoleon udah menghampiriku di ruang UKS.
“Hei, kata Mas Davis lo sakit? Ayo gue anter ke rumah sakit.” Tanpa mendengar balasanku dia menggengam tanganku dan menaikkanku ke pundaknya. Aku berusaha menepis namun tangannya mencengkram tanganku keras.
“Gausah berontak, dari pada kaki lo cedera lebih jauh. Mending malu deh, ini juga gue malu diliatin satu sekolah.”
“Ya makanya, lo lari cepet.”
Gak berapa lama, kita udah sampe di rumah sakit dan yang bikin aku tambah emosi adalah Mas Davis udah disana, which is dia ngerjain aku sebenernya dia bisa jemput aku di sekolah. Karena Ayah adalah salah satu kolega dari dokter rumah sakit ini aku didulukan. It took only 10 minutes for him to take all the glasses in my leg, tapi gara-gara ada Timo berasa jadi 10 century. God, aku jenggah banget dengan rasa cemas dan perhatian Timo. Mas Davis lagi, dia takut sama darah jadi gak bisa menemaniku.
Setelah kakiku diperban dan menebus obat untuk penghilang bekas luka, kita bertiga ke kantin rumah sakit. Aku sadar dari pagi belum makan jadi makanan rumah sakit yang yikes banget ini kerasa enak. Ditengah-tengah keasikanku makan, tiba-tiba Mas Davis pura-pura ambil bbnya dan sok-sok dipanggil Ibu ke butik untuk menjemputnya.
“Sorry lagi ya, Tim. Kayaknya lo nih yang harus anter, Fra.”
“It’s ok kok, Mas. I’ll take her.”
“C'est une bonne chance pour vous. Bonne chance!1”
“Haha, grâce2”
I officially lost my appetite begitu Timo membuka sebungkus rokok.
“You smoke?”
“Kalo lagi bosen. Lo mau?”
“Yaks, engga thanks. Gue duluan deh ke mobil lo disini aja deh, and please remember this is hospital YOU CAN’T SMOKE HERE.” Kataku judes sambil memberi penekanan.
Oh dear, I can’t stand it anymore. Timoleon is definitely not my type.
“Tunggu-tunggu, Fra.” Timo mengejarku keparkiran, dengan kaki yang diperban seperti ini tentunya sulit untukku lari menjauh darinya.
“apa?” kataku judes.
“Kaki lo masih sakit kan? I’ll take you a wheel chair, tunggu bentar aja.” Katanya sabar.
Dia membukakan pintu untukku dan menggendongku masuk. Aku sama sekali gak bisa berontak karena memang kakiku bener-bener sakit dan pedih. Jarak rumah sakit dan rumahku memang jauh ditambah kemacetan ibu kota dan hujan jadi tambah lama. Situasi awkward ini benar-benar bikin aku malas, lalu aku menyalakan radio dan herannya Timo juga mengerakkan tangannya ke tombol on. Dengan cepat, aku tarik tanganku dari radio.
“Ehm, sorry.” Katanya tulis.
Aku membalasnya dengan anggukan dan tetap hening lalu menatap keluar jendela.
“Fra, I’m sorry.”
“Duh, iya-iya. I forgive you.” Gah, how many times sih dia mau minta maaf?
“Bukan soal radio itu. Soal gue ngerokok.”
“Why? That’s not my business. That’s your lungs that your burn, and that’s not my money you burn.” Lanjutku “Lagian, I’m not your mom. Kalo, I’m your mom udah gue usir lo dari rumah, sakit-sakit gue ngelahirin lo, lo bakar tuh paru-paru lo.”
“Tapi..” Dia memotong.
“And I’m not your dad, kalo gue bapak lo udah gue usir lo dari rumah, susah-susah gue cari duit malah lo bakar.”
“But..” Dia memotong lagi.
“Dan juga, I’m not your girl, rajin-rajin gue ke dentist sama sikat gigi pagi-siang-malam cuman buat kiss a smoker.” Tutup pidato singkatku.
Dia tampak takjub dengan pidato singkatku, dia menoleh ke arahku lalu menatapku. Untung, ini macet.
“Ok, I stop smoking.” Katanya mantap.
“That’s your decision, I’m nothing to you.”
“Iya, I know. But, I promise you I stop smoking. I’ll do anything for you…”
1. This is a good chance. Good luck!
2. Thanks
Selasa, 04 Januari 2011
The Best Of Us - Giusepina
Hmm aku masih melarikan diri "lagi" dari si Oliver untuk gak tau yang kesekian kalinya. Pertanyaan sama yang dia kasih gak pernah aku pikirin sungguh-sungguh. Untung aku ketolong buat menjawab pertanyaan itu nanti dengan alasan "mau ada ulangan" yang gak pernah aku pikirkan secara sungguh-sungguh.
Contohnya kemarin yang harusnya aku belajar math + chemist bareng Fra d rumah turned out jadi nobar P.S I Love You. Apalagi ditambah si TimTimo yang ikutan nonton. It's just a big WOW. I think sekarang Timo beneran suka ama Fra 100%. Timo sampe nganterin Fra pulang. Memang sih I've been set this up. Tapi gak nyangka banget Timo beneran mau nganterin Fra. Apalagi pas Fra nge BBM aku kalo Timo sampe ketemu sama keluarganya. It's a huge WOW. Sampe rumah Timo langsung aku wawancara. Aku kupas habis. I think he enjoyed it to be with Fra's family especially with Mas Davis kakaknya Fra. Hmm bisa jadi calon kakak iparnya Timo tuh.
Gak kerasa ulangan umum yang dimulai dengan math + chemist selesai juga. Christmas and New Year are waiting. Untung report card akan dibagi sehabis liburan. Kalau gak mungkin aku sudah stress duluan. Tapi sedih banget Christmas + New Year tahun ini gak ada mama dan papa. Aku jadi harus menghabiskan liburan dan acara-acara bareng Timo. Seru sih kalo dia lagi good mood tapi kalo udah bad mood Timo bener-bener minta dibunuh. Untungnya Christmas Eve kali ini Timo is in a good mood. Kita bikin acara kecil-kecilan di rumah. Daripada bengong. Aku ngundang Fra. Sedangkan Timo ngundang Kak Liz, Oliver, and Reno si orang yang lebih ngeselin daripada Timo. Aku bingung. Sebenarnya apa Timo masih suka sama Kak Liz atau entahlah.
Acara kali ini SUPER seru. Lebih seru kalo gak ada si Reno yang mengganggu pemandangan. Aku sempat narik Timo buat aku interogasi alasan kenapa dia harus bawa si Reno.
"Tim, kenapa kamu ngundang Reno coba?"
"Yah biarin aja sih. Emang kenapa? Keberatan?"
"Rumahku jadi tercemar tau gak. Jangan bilang kamu mau cari muka biar selalu jadi tim inti ya?"
"Huh? Sorry ya. Gak usah kayak gini I'll always be in the team. As a CAPTAIN"
"Sok kamu"
Reno's really annoying. Dia sok baik gitu nyapa-nyapa.
"Hi Giu. Thanks for inviting me"
"Hmm"
Padahal yang ngundang Timo gitu bukan aku. Kalo bisa juga aku gak mau Reno ada di sini. Dan kayaknya yang terganggu dengan adanya Reno bukan hanya aku tapi Fra juga. Lagian buat apa coba dia diundang?? Dan dengan jawabanku yang tadi sepertinya dia sadar kalo aku kesel banget sama dia.
"And I'm sorry"
"For what?"
"Udah nyuruh kamu lari lapangan. Padahal kamu gak ikut ekskul basket"
"Oh.."
Untung si Oliver datang. Thanks God. "Giu!!!"
"Hah?"
"Ayo nonton itu udah dipanggil yang lain"
"Okay" aku langsung pergi dengan Oliver. Biarin aja si Reno sendiri. Dia ngeselin gitu sih.
Acara kita mulai dari makan-makan sampai nobar *lagi*. Pas lagi nonton aku baru nyadar kalo si Reno ngedeketin Fra dan Timo ngedeketin Kak Liz. 'WHAATT?? Gak salah ya?' Pikirku. Tiba-tiba si Oliver datang. Aduhh kenapa sih si Oliver selalu datang di saat yang gak tepat? Bikin kesel banget. Dan dia selalu menanyakan hal sama yang setiap kali ketemu aku selalu ditanya.
"Giu, please answer me. Sekarang kan udah gak ulangan umum lagi. So, would you be my GF??"
"Hmm gimana ya? Bingung.."
"Could you please just answer me?"
"I'm confuse. Really confuse"
"I really love you."
"..."
"Please answer me"
Okay, Oliver makes my heart beats faster. Lama-lama aku capek juga selalu ditanya hal yang sama. Jadi, aku jawab saja....
Rabu, 22 Desember 2010
The Best of Us - Fransisca
From: Reno
Setelah dapet jarkom dari Reno aku sungguh tenang. Sebelumnya aku memikirkan gimana sikapku didepan Reno setelah dia mengantarku pulang. Singkat cerita setelah kejadian itu terjadi beberapa awkawrd moment diantara kita berdua. Dia nge-add pinku, yang sebenernya aku males kasihnya, dia juga ngajak aku nonton Narnia, yang dia tau aku ngga ngikutin sama sekali,pernah dia ngasih aku minum sehabis latihan basket.
Sebenernya dari sejak pertemuan pertama sama dia (lagi) aku udah mau keluar dari ekskul basket. Mending ikut ballet deh yang isinya cewe-cewe tukang gossip semua, dari pada ketemu Reno. Maksudku aku bukannya belom maafin Reno tapi Reno semakin annoying karena ngganggep aku masih suka sama dia. Naruh harapan aja engga, masa dibilang masih suka. Hello, ini udah 2010 kaleee bentar lagi 2011 sikap Reno yang suka geer itu belum juga hilang.
Giu yang dari awal ngga suka dengan keberadaanya Reno gencar banget ngajak aku keluar dari basket. Aku juga sama sekali ngga ngerti peraturan-peraturan basket. Yang bener aja dong aku gitu, main bulutangkis aja engga bisa. Paling eeew deh sama y ang namanya olahraga. Kalo tweeting dianggep olahraga mungkin itu satu-satunya olahraga yang aku bisa.
Seharusnya aku ada di rumah dan belajar math and chemist. Tapi sekarang aku ada di rumah Giu sambil menonton DVD P.S. I Love You. Aku ijin sama ibu buat belajar bareng di rumah Giu, tapi karena kami berdua udah stres tingkat dewa akhirnya memutuskan nonton DVD. Orang tua Giu pergi ke luar negri untuk urusan bisnis yang mendesak. Di rumah, Giu dititipkan sama Timo. Bayangin dong bukannya kebalik ya Timo yang dijagain Giu. Kalian tau, Giu bilang padaku Timo itu selalu tidur dibawah jam 10 malam. Katanya untuk menjaga kesehatan kulitnya.
Well, kalian doain aku aja ya biar besok bisa menghadapi final exam. Karena sejujurnya aku sama sekali belum siap. Aku juga belum mempersiapkan alat tulis dan papan untuk besok. Lebih baik sekarang aku menikmati sisa hari ini dengan menonton DVD. Tiba-tiba ada yang menghampiri aku dan Giu.
“Hei, Fra.” Sapa Timo ramah.
“Ha?? Hei, Kak.” Balasku malas-malasan.
“Gue ikut nonton ya, di luar sepi. Takut.” Sambungnya.
OH GOD Timo selalu datang disaat yang tidak tepat!
Setelah Timo gabung bareng Giu dan aku, ia justru lebih terlihat friendly dan benar-benar berbeda dari sebelumnya. Mungkin gara-gara dia beneran takut. Di luar ujan dan petir menyambar-nyambar rumah Giu yang banyak barang-barang antiknya ini bener-bener jadi seserem rumah hantu di dufan (well, gak seserem itu juga sih).
*bunda calling*
“Hey, mom?”
“MAU PULANG JAM BERAPA! I KNOW YOU DIDN’T STUDY THERE!”
“Chill out, mom. Bentar lagi aku pulang kok.”
“OK, I PICK YOU NOW!”
“NO NO, MOM! Aku dianter Giu!”
“GAUSAH TERIAK FRANSISCA, I CAN HEAR YOU!”
“OKAY! BYE! LOVE YOU!”
“LOVE YOU MORE!”
Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Untung tadi siang udah ngerti logaritma dan kawan-kawan. Pulang ke rumah aku udah siap tidur ini. Cape banget seharian main bareng Giu dan Timo(ew).
“Siapa? Your mom?” tanya Timo yang dari tadi memperhatikanku.
“Yeah, you know she’s worrying ‘bout me.”
“Haha, no wonder. Anaknya yang cantik di luar rumah jam segini.”
“Sorry, Tim. I can’t hear you. What did you say? Ada thunder tadi.”
“Uhm, nothing.”
Tidak jauh dari kami ada Giu, dia menatapku penuh arti.
“What?”
“Nothing hahaha.”
“There must be something. Yuk, anterin gue pulang.”
“Tim, can you drive Fra home?”
“Hmm. Sure.”
Wait! What? Aku dianter pulang Timo? Mau diinterogasi apa sama Bunda! 20 menit berikutnya kita udah sampe di depan rumahku. Ujannya gede banget. Mau suruh Timo cepet pulang juga ngga enak. Apa boleh buat aku ajak dia masuk kedalam.
“Mom? Are you there?”
“Are you going to introduce me to your mom?”
“Iya as kakak senior yang nyebelin.”
“I drove you home!”
Aku mulai ga peduli dengan keberadaan Timo. Ada suara berisik dari ruang keluarga. Kayaknya bunda lagi pada nonton deh. Aku memasuki ruang keluarga. Celaka dua belas di ruang keluarga ternayata ada om dan tante serta saudara sepupuku dan juga Mas Davis kakak laki-lakiku. Mas Davis itu sekolah di Prancis. Dulu dia maunya dipanggil Ko Davis, sekarang maunya dipanggil mas biar Indonesia sekali. Mentang-mentang di negri orang rasa nasionalisnya tinggi. Sekarang dia lagi libur Natal dan tahun baru jadinya pulang ke Jakarta.
“Mom, I’m home.”
“Yaaa, I can see you.” Kata bunda seraya menghampiriku.
“Ça fait longtemps qu'on ne s'est pas vu. Maintenant, vousramener à la maison garçon.”1
“Long time no see, mas! I miss you very much!” kataku sambil memeluknya.
“Ma petite sœur est grandissant. Elle a déjà un petit ami.”2
“Non, je ne suis pas son petit ami.”3 Balas Timo yang dari tadi dia disampingku.
“Wow, you can speak in French!” kata mas davis seraya menghampiri Timo.
“Yeah, sure i can. Hahaha. Mon nom est Timo4, nice to meet you.”
“Nice to meet you too. Si vous êtes son ami, je ne suis pass'inquiéter5”
Great sekarang kedua cowok didepanku ini ngomong pake bahasa alien yang aku ngga ngerti. Mereka berdua langsung terlihat akrab dan herannya mereka punya banyak kesamaan.
“Fra, go to your room now! Continue study math.”
“Ugh, okay mom.”
“De bawa aja sini matnya belajar bareng sama Timo.”
“Ha? Grade eleven kan gak ulangan?”
“C’mon, Fra. I can teach you.”
WHAT? WHAT DID HE SAY? I CAN TEACH YOU? Hello, amnesia kali dia. Dia itu udah nolak mentah-mentah permintaanku buat wawancara dia. Sekarang mau ngajarin. Gak salah denger?
“I think Mas Davis can teach me. You better go home. I think Giu is waiting for you.”
Itu kalimatku yang terakhir untuknya hari ini. Aku langsung lari keatas. Dia pikir aku lupa apa gara-gara dia dahiku sakit, gara-gara dia aku terancam dapet nilai jelek karena gak mau diwawancara. I think he’s getting more annoying gara-gara diaudah kenal sama keluargaku bukan berarti langsung bikin dia baik dimataku. Huh, I better go to sleep right now.
1. Long time no see. Now, you bring boy home.
2. My little sister is growing up. She already has a boyfriend.
3. No, I’m not her boyfriend.
4. My name is Timo.
5. If you are her boyfriend I'm not worry.
Kamis, 09 Desember 2010
The Best of Us - Giusepina
I hateee kak reno si coach basket gk becus. Jelas-jelas aku enggak ikut klub basket tapi dia berani-beraninya menghukum aku buat lari lapangan. Mending larinya cuma 1x lapangan, dia malah nyuruh 10x lapangan. Gk tau apa kalo lapangan di sekolah bergengsi kayak La Madie gini sangat teramat besar. Aku heran kenapa sekolah sebagus La Madie bisa mengizinkan si reno coaching basket di sini. Memangnya enggak ada coach yang lebih bagus dari dia. Kayaknya banyak deh ya. Untung aja si Fra udah putus ama dia. Benar saja kalo aku bilang biarpun Timo super ngeselin sok cool gitu tapi dia jaaauuuuhhhhh banget lebih mending daripada si Reno. Apa coba lebihnya Reno sampe Fra bisa suka sama dia.
Gk cuma sampe di situ aja kekesalanku. Tapi waktu sampai di rumah aku dikasih tau mama kalo mama sama papa akan berangkat ke London karena ada urusan. Dan mereka gak ngebiarin aku tinggal di rumah sendirian sama Mbak Siti + Pak Eko. Dan akhirnya mereka suruh Timo tinggal di rumahku untuk sementara waktu karena ternyata orang tua Timo juga akan pergi ke London bersama mama dan papa. Kenapa dewi keberuntungan gak pernah berpihak ke aku sih?
Sore hari Fra nge-BBM aku. Dia nyeritain semua yang dia alamin waktu pulang sekolah. Tiba-tiba bel rumahku berbunyi. Dan ternyata oh ternyata itu adalah si Tim-Tim. He moves to my house this evening. Barang bawaannya banyak banget udah kayak mau pindah rumah aja. Kata mama dia akan tidur di kamar tamu. Aku langsung inget ama BBM Fra. Aku langsung nyamperin Timo.
"TIMO!!! Kenapa lo sering bikin Fra kesel? Ckckck lo caper ama Fra ya? Suka ya?" sambarku langsung.
"APA?? Kuping gw jadi budeg sekarang. Sejak kapan gw suka ama Fra?" jawabnya.
"Abis lo suka banget bikin Fra kesel. Caper banget sih lo."
"Siapa yang bikin Fra kesel hah? Dia sendiri aja yg sering kesel sendiri tanpa alasan"
Tiba-tiba mama dateng.
"Tante," sapa Timo dengan sok ramah. Jelas banget kalo itu cuma dibuat-buat.
"Hi Tim. Papa mama kamu udah siap kan. Sebentar lagi kita akan ke airport," balas mama.
"Udah kok tan. Mereka udah nunggu di rumah"
"Ma, aku boleh ikut nganterin gak?" aku gak mau ditinggal di rumah sama Timo -_-
"Gak usah sayang. Besok kan kamu sekolah. Baik-baik ya di rumah. Timo, jagain Giu ya. Mama pergi dulu ya Giu"
"Hati-hati di jalan ya ma," balasku.
Setelah itu aku berbalik ke Timo, "I'll be back!!! Pembicaraan kita belom selesai"
"Ya ya whatever. Suka-suka lo deh," balasnya.
Akhirnya mama dan papa pergi menjemput orang tua Timo untuk pergi ke airport bersama-sama. Gak berapa lama tiba-tiba bel rumahku bunyi lagi. Siapa sih yang dateng malam-malam gini?
Tiba-tiba...
"Non, ada Den Oliver Non," lapor Mbak Siti kepadaku.
"Dia mau nyari Timo kali mbak"
"Nggak kok Non. Wong Den Oliver sendiri toh yang ngomong mau ketemu Non Giu. Tapi Den Timo juga udah di ruang tamu sama Den Oliver"
Akhirnya mau gak mau dengan malas-malasan yang super malas aku pergi ke ruang tamu. Di sana aku sudah menemukan Oliver dan Timo udah ngobrol. Abis ngeliat itu aku langsung balik badan mau balik ke kamar. Tapi...
"GIU!!!" Oliver mengetahui keberadaanku.
"Apa?" Balasku berusaha sinis.
"Mau ke mana?"
"Mau ke kamar. Kenapa? Gak suka?"
"Yaaahhhh. Gw udah susah-susah dateng ke sini"
"Emg lo mau ngapain sih?"
"Ngobrol-ngobrol aja"
"Udah ngobrol ama Timo aja," aku langsung balik badan sudah berniat buat balik ke kamar.
Tapi, tiba-tiba ada yang menahan tanganku...
