Kamis, 11 November 2010

The Best of Us - Fransisca

“Belom pulang?” tanya seseorang di belakangku.

“Ujan.” Jawabku tampa menoleh kepada yang bertanya.

Sore ini aku baru pulang latihan basket, well sebenarnya aku gak mau ikut ekskul tapi Ma’am Maria memasukkanku ke ekskul ini. Mungkin Ma’am Maria tidak tahu kalo aku drible bola aja ga bisa. Sebelum Reno masuk menjadi coach, belum banyak anak kelas 1 yang minat dengan basket. Sejak Reno masuk jadi coach, semua berbondong-bondong masuk. Mereka belum tau dalemnya si Reno aja. Blah.

“Yuk, pulang bareng.” Dia lalu menarik tanganku.

Sebelum aku menepis tangannya, ada seseorang datang dari belakang dan menarik tangan kiriku.

“Sorry, coach. Dia sama gue.” Kata Timo.

HA? TIMO? KOK DIA BISA ADA DISINI?

“Oh ya? Emang bener, Fra?”

Aku yang bingung mau menjawab apa hanya mengangguk tanda setuju.

“Oh gitu ya, Fra? Saya duluan deh kalo gitu.” Kata Reno dengan nada kecewa.

Sebenarnya aku jadi merasa bersalah dan gak enak sama Reno. Apalagi sekarang Timo masi menggandeng tangan kiriku.

“Lepasin tangan gue, ngapain dipegangin terus.”

“Lo yang duluan megang tangan gue ya!” Aku langsung menepis tangannya.

“Ayo cepet deh pulang! Mau gak?” tukasnya.

“GAK MAU! ORANG LO DULUAN YANG GANDENG GUE!” teriakku kesal.

“YAUDA SIH! GOSA TERIAK JUGA KALE!”

Saking kesalnya aku sama Timo hampir aku lempar tas basketku yang beratnya sepertiberas 5kg kemukanya. Gara-gara Timo dan aku teriak tadi semua orang langsung melihatku heran. Ini bukan sinetron gak mutu yang sekarang banyak di tv lokal, ini real Timo yang antagonis ada di dunia ini beneran. Seharusnya aku gak usah nolak tawaran Reno tadi. Aku berubah pikiran sekarang, se-jerknya Reno he is better than Timo.

Setelah kutinggalkan Timo sendiri, aku langsung berlali menerobos hujan menuju parkiran untuk menyusul Reno yang kurasa belum jauh. Mobil Reno masi terpakrir, kurasa dia menunggu sesuatu karena mesin mobilnya sudah hidup namun ia tidak beranjak dari situ.

“REN! Ren! Sorry gue bisa nebeng gak?”

“Sure, sini masuk aja.”

Reno membukakan pintu sebelah kiri untukku. Aku masuk dengan badan sedikit basah karena berlari menerobos hujan.

“Sorry, Ren.”

“That’s ok, Fra.”

Dia lalu menjalankan mobil keluar dari lapangan parkir Lamadie yang kurasa seluas lapangan bola ini.

“Rumah lo masi sama kan? Hahahaha.”

“Menurut lo? Hahahaha.”

“Sorry gue Cuma mau nanya. Lo sama Timo ada hubungan apa?”

“Well, dia itu sepupunya temen gue. Itu doang, gak lebih. And by the way, Giu temen gue dari club fotografi itu sebel sama lo. Dia kesel gara-gara lo suru dia lari. Hahahaha!”

“Really? Hahaha. Yauda tar lo tunjukkin dia, gue mau minta maaf deh.”

2 menit berikutnya kami hanya berdiam, suasana di mobil benar-benar menakutkan. Hujan tambah deras banyak petir dan lebih parahnya banjir. Kawasan Lamadie mugkin gak banjir, tapi jalanannya itu yang banjir. Ditambah macet ibu kota di saat hujan seperti ini bikin tambah emosi. Namun sifat Reno yang sabar belum juga berubah dari dulu. Dengan sabarnya dia mengemudikan mobil menuju rumahku. Satu jam berikutnya aku sudah ada di depan rumah.

“thank you ya, coach Reno. Hahaha”

“Anytime, Fra.”

Saat aku mau keluar dari mobilnya, sekali lagi dia menahannku. Langsung aku tepis tangannya agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

“Hmm sorry. And Fra gue mau minta maaf.”

“Soal apa?”

“Yang lalu-lalu, gue yakin lo tau maksud gue tadi,” lanjutnya “Jadi gini,...”

“Gosa lo jelasin deh, Ren. Gue maafin kok.”

“Really?”

“Really.”

“Fra, please answer this. Do you forgive me wholeheartedly?”

“Hmm, yes.”

Sebenarnya dalam benakku sendiri aku juga masi bingung sih. Do I forgive it or just forget it? Mungkin jawabannya hanya aku dan Tuhan yang tahu.

Senin, 01 November 2010

The Best of Us - Giusepina

Wheewww!!! Minggu ini tuh minggu yang sangat melelahkan, membingungkan, dan misterius. Minggu ini aku beneran masuk klub fotografi yang memang sudah aku incar tapi kubatalkan gara-gara ada si Oliver tau aku akan masuk situ dan jadinya mengambil ekskul ganda yaitu basket dan fotografi. Ini gara-gara klub majalah yang tadinya kumasuki penuh dan aku dilempar ke klub fotografi . Aaahhhh. Kenapa hidupku dipenuhi dengan oliver oliver dan oliver? Gak itu aja ya. Minggu ini juga ketauan klo kak Reno pelatih basket yg baru which is pelatihnya si Tim-Tim itu mantanya fra. Shock banget parah. Menurutku mendingan si Fra jadian ama Tim-Tim daripada kak Reno. Kan lebih cocok hehe.

Ternyata si Fra masuk ekskul basket sama Tim-Tim + Oliver :O kaget banget d. Hari ini ada ekskul jadi semuanya siap-siap. Karena basket + fotografi waktunya barengan si Oliver ikutnya selang-seling. Minggu ini basket dan minggu depan fotografi. Begitu terus. Aku pun mulai bersiap-siap. Hari ini anak-anak ekskul fotografi boleh foto apapun. Jadinya aku segera ke lapangan basket.

"FRAAA!!!!", panggilku
"Hi Giu!!! Kok bisa sampe sini?"
"Hari ini boleh foto bebas sih. Gw foto lo aja ya"
"Ahh jadi malu. Gw jadi salting wkwkwk"
Tiba-tiba si Tim-Tim + Oliver nyamperin
"Hi! Did u miss me?", Oliver kepedean
"Hah? Gk slh? Lo kali yg kangen ama gw"
"Gw masih nunggu jawaban lo loohhh"
"Hmm nanti-nanti aja deh ya"
"Ngapain lo ke sini?", tanya Tim-Tim dengan tampang yang super gak nyantai
"Suka-suka gw kali mau ke mana aja. Emang sekolah punya nenek moyang lo? Klo iya berarti punya nenek moyang gw juga"
"Gak jelas deh lo"
"SUKA-SUKA. Lgan lo ngapain cb JB JB d sini hah?"
"...." Tim-Tim gak bisa ngomong.

PRRIIIITTTT peluit si ex-boyfriend nya Fra menandakan mereka harus ngumpul dan aku ditinggal sendirian. Jadilah aku foto-foto anak-anak klub basket. Kasian Fra. Dia terpaksa masuk ekskul basket gara-gara disuruh guru karena dia gak punya ekskul. Padahal di situ ada Timo + kak Reno yg dia benci.

Tiba-tiba entah kebetulan atau enggak waktu aku lagi foto-foto tiba-tiba kameraku menangkap Oliver. Dia lagi nengok ke arahku.
"Giuuu!!!!"
"Apa lo? -.-"
"Gw tau lo tadi foto gw. Ngefans ya? Gw ganteng ya?"
"EW berharap banget lo"
Tiba-tiba Fra nimbrung "ciiiieeeee Giu. Gw gk nyangka. Udh terima aja"
"Hiiihhhhh", balasku. Semua anak basket memandang ke arahku. Mukaku berasa panas.
"Ahh berisik banget sih lo. Dateng-dateng bikin rusuh mending lo pergi deh.", Timo nimbrung
"SUKA-SUKA", balasku
Tiba-tiba dari belakang Timo, "heh!!! Kalian berisik banget deh. Sekarang kalian ber 4 lari 10 kali lapangan!"
Timo yang gak tau langsung jawab, "apa sih sok ngatur-ngatur deh."
"TIMO. Kamu lari 15 kali lapangan atau saya keluarkan dari tim", suara kak Reno menggelegar.
Timo langsung balik badan dan langsung melihat kak Reno yang mukanya udah super bete. Tiba-tiba aku langsung nyadar ada sesuatu yang janggal dari perkataan kak Reno. Dia bilang ber 4? Jelas-jelas yang ikut klub cuma Fra, Timo, Oliver. 1 lagi siapa?
"Kak yang 1 lagi siapa? Katanya ber4?" tanya Oliver.
"Tuh kamu yang disitu juga harus ikut lari." kata kak Reno sambil menunjukku.
"Hah? Saya? Saya kan gak ikut basket." balasku. "Kamu memang gak ikut basket tapi kamu bikin rusuh. Sana lari atau saya laporkan ke pembimbing fotografi"

Kita ber 4 langsung lari keliling lapangan. Ternyata kak Reno emang bener-bener nyebelin. Aneh Fra bisa jadian sama si RenRenoRese. Ternyata si RenoRese lebih nyebelin daripada Tim-TimTimo.
"Ah gara-gara lo kan Giu", Timo ngedumel.
"Yeh siapa yang suruh lo ikut-ikut nimbrung? Gak ada kan? GAK ADA", balasku.
Timo gak bisa jawab apa-apa.
"Aduh gila 10 kali lapangan tuh jauuuuhhhhh banggggeeeeetttttt", kata Fra
"Serius Fra? Aduh mana kuat gw", kataku
"Tenang Giu. Kan ada gw. Lo pasti kuat. Kan I'm your mood booster", kata Oliver sok pede.
Ya ya ya Oliver apa kata lo deh balasku dalam hati karena udah males bales Oliverpedemodeon.

Kamis, 02 September 2010

The Best of Us - Fransisca

Akhirnya weekend datang juga! Murid-murid Lamadie diminta untuk memilih salah satu ekskul dari sekitar 10 ekskul yang ada. Karena boleh untuk tidak memilih ekskul aku memutuskan untuk tidak ikut saja. Apalagi, jadwal lesku yang padat. Bayangin ya les matematika-fisika-kimia hari Senin-Rabu lalu ada les biola dari hari Kamis sampai Jumat. Tadinya Ibu sudah menyuruhku berhenti les biola karena menurutnya skillku gak maju-maju semenjak dua tahun yang lalu aku mulai les ini. Tapi ayahku mendukung katanya “biar aja lah si Fra les. Tuh anak gak punya temen banyak kan.” Yaampun apakah segitu kupernya aku di mata kedua orangtuaku?

Bicara tentang ekskul, tadinya aku dan Giu mau bergabung dengan ekskul fotografi. Namun, dikarenakan Oliver masuk ke eksul itu juga. Tadinya kami mau masuk fotografi karena senior-senior fotografi rada errrr… bertampang lumayan. Buktinya Oliver, pacar Giu (Well, belum pacar juga sih Cuma dari kedua pihak tampaknya sudah positif. Apalagi minggu kemarin aku melihat mereka gendong-gendongan) masuk fotografi.

Enough about extracurricular, hari ini aku dan Giu akan pulang bareng! Yeay! Dan aku dikasi ijin sama Ibu buat nginep di rumah Giu this weekend. Aku bilangnya sih mau kerjain homework dari Ma’am Mariana, tapi nanti pasti kami akan marathon DVD. Jadi, hari ini dari sekolah aku langsung ikut mobil Giu. Untung Pak Adi, supirku, berbaik hati mau membawakan perlengkapan untuk menginap yang sudah disediakan Ibu.

“Fra, jadi kan ke rumah gue?”
“Jadi dong! Harus jadi.”
“Sip sip. Tapi…..”
“Apaan?”
“Gue disuru nyokap sekalian nunggu Timo gitu. Sorry ya. Gue janji dia gak macem-macem. Jadi dong ke rumah gue nyaaa.”
“Yah, ada dia gue males deh. Yauda sih cuma di mobil doang kan? Tenang aja pasti jadi.”

Siangnya, sesudah pulang sekolah. Aku dan Giu terpaksa menunggu Timo di pinggir lapangan yang panasnya luar biasa. Tadinya, kami mau duduk di cafeteria berhubung third grader lagi pada nongkrong disana otomatis kami minggir daripada kena masalah. Tapi ada untungnya juga sih, di pinggir lapangan ini kami bisa liatin muka-muka senior yang bertampang lumayan. Dan tiba-tiba aku menyadari yang menjadi coach baru anak basket adalah seseorang yang aku kenal.

*BUK* Bola basket yang diperebutkan oleh anak-anak basket mengenai kepalaku. Sakit banget.
“Sorry!”
“Ha? Sorry? Lo kira sorry cukup?!” balasku sengit sambil menengok ke orang yang sudah minta maaf tadi.
“Eh?? Hei.”
“Hhh. Hei.”
“Apa kabar?”
“Oh iya, baik kok. Gue.. gue kesana dulu ya.”

Akhirnya dengan sangat terpaksa aku memutuskan untuk ke cafeteria. Lebih baik dikerjain sama kakak kelas daripada mesti ketemu si jerk itu. Giu dengan terburu-buru menyusulku. Aku tahu Giu pasti bingung mengapa tadi aku langsung berlalu begitu saja.

“Napa lo? Si Timo udah selesai. Yuk langsung ke mobil gue aja.”

Aku pun menurut Giu. Aku mengikuti Giu ke mobilnya sambil berharap gak ketemu si jerk lagi. Begitu sampai di mobil Giu, Timo sudah duduk di bangku sebelah supir. Aku dan Giu duduk di jok belakang.

“Hai, Fra.”
Tumben banget nyapa. Biasanya aja cuek luar biasa.
“Eh, hai juga.”
“Sorry ya tadi gue gak bisa nangkep bolanya tepat waktu. Jadinya kena pala lo. Masi sakit gak?”
“Iya gakpapa kok. Udah gak terlalu sakit sih. Cuma gue rasa gue hamper geger otak ringan deh secara itu bola kenceng banget.”
“Haha, lebay lo. Sorry ya sekali lagi. Itu bukan salah Kak Reno, jadi lo gak usah marah-marah sama dia ya, Fra.”
“Eh? Iya.”
“Oh iya, Fra. Lo kenal coach anak basket?” kata Giu yang sejak tadi gak ngomong apa-apa
“Hah? Iya-iya.”
“Kenal dari mana?” gantian Timo yang mengintrogasiku
“Hah? Err. Iya. Itu.”
“Apaan sih yang jelas dong?!!” judesnya Timo muncul juga
“Err. Iya, he used to be my bro’s best friend and my… my… my... boy”

Rabu, 11 Agustus 2010

TWITTER

HEY FOLKS!

WE ARE ON TWITTER

PLEASE FOLLOW @bestiebestofus

TO GET MORE INFO OF OUR BLOG


LOVE,

CINDY-SONIA ♥

Jumat, 06 Agustus 2010

The Best of Us - Giusepina

Setelah kemarin mama menggelar syukuran, banyak hal terjadi di hidupku sekarang ini. Mulai dari si TIMO yg adalah sepupuku sampai OLIVER si freak BUUTTTTTT cute yang nembak aku. To be honest, sampai sekarang aku belom ngasih jawaban juga ke dia. Kira-kira apa yang akan terjadi besok ya?
“AAAAAHHHHHHH!!!!!”
“Giu, kamu kenapa?” mama menyerbu masuk kamar.
“Aku terlambat ma. Kok tadi gak ada yang bangunin?”
“Abisnya kamu keliatan cape banget sih Giu.”
AAAAHHHH aku terlambat ke sekolah. Aku pun segera bergegas sebelum keterlambatanku semakin parah. Setelah rapi cepet-cepet aja aku ke luar. Tapi kenapa gak ada pak Eko?
“Mbak Siti! Pak Eko mana?”
“Pak Eko lagi sakit non.”
G-R-E-A-T. Kenapa hari ini nasib gak berpihak ke aku sih. Saking putus asanya aku langsung aja lari ke sekolah. Emang sih jarak dari rumah gak terlalu jauh. But this is my first time to go to school by my feet. Tiba-tiba pas di jalan…
“GIU!!!”
dalam hati aku langsung berpikir “kayaknya ada yang manggil ya” tapi aku enggak dengerin dan masih terus lari aja. Tau-tau udah ada SUV hitam yang berenti di depan aku. Dan tebak siapa yg keluar! O-L-I-V-E-R.
“Giu! Dipanggil kok gak nengok sih?” oliver bertanya.
“Abis kirain siapa. Lo belom ke sekolah?”
“Gw kan nungguin elo. Ayo berangkat ama gw.”
“Gak apa-apa?”
“Ya iyalah”
“Ah enggak deh. Gw gak mau ngerepotin”
“Udah lo ikut aja” Oliver langsung menarikku masuk ke mobil.
15 menit kemudian kami sampai di sekolah. Jam sudah menunjukan pukul 08.40, which is berarti kita telat 10 menit. Dan aku dapat detention. Hari yang “SANGAT MENYENANGKAN”. Tapi untung detentionnya cuma disuruh lari lapangan 7 puteran. Tapi sayangnya aku harus lari bareng OLIVER. Dan tiba-tiba…
GEDEBUG!!!
“Giuuuu!!!”
“AAAWWW”
Hebat banget ya hari ini. Hari yang paling berkesan sedunia. Gak cukup-cukup ama kesialan yang tadi aja tapi aku pake harus jatoh segala. Dan si Oliver langsung nyamperin.
“Aduh Giu lo gak apa-apa? Yang mana yang sakit?”
“Ahhh kaki gw super sakit.”
Aku mencoba untuk berdiri tapi malah jatoh lagi. Itu super malu-maluin. Tiba-tiba si Oliver langsung ngegendong aku,
“OLIVER! Turunin gak?!”
“Udah lah lo kan gak bisa jalan.”
“Tapi turunin aja!!!”
“Gak mau :p”
Si Oliver pun menggendongku sampai ke UKS. Ngegndongnya tuh udah berasa kayak Prince Charming who saves a Princess. Pas jalan ke UKS kita ketemu Fra.
“Oh my Giu ternyata …” Fra mulai ngegodain.
“Ternyata apa Fra?”
“Kok gak bilang-bilang sih? Hehehe”
Si Fra malah ngegodain aku ama Oliver pula. Mana si Oliver cuma senyum-senyum kayak bahagia banget. Dasar cowo ANEH!

Sabtu, 10 Juli 2010

The Best of Us - Fransisca

He's freak. He's totally freak. You know when I asked him for the interview, he IGNORED me! Whoa! Me! A beautiful girl with long black gorgeous hair! Me! Fransisca Alberthine! (Guys, it's not arrogant. It's confident.)

*a few hours ago*

"Kak Timo!"

Timoleon berjalan tanpa menghiraukan panggilanku. Okay. Weirdo! Don't call me FRA kalo gakbisa bikin lo nenggok! Dengan kasar aku menarik tangannya.

"Apa sih lo?!"

"I've sumthin to tell you!"

"Apa?!"

"Gue pengen interview lo doang buat tugas. Itu doang."

"Ha! Kayak gue mau aja!"

"Ya itu kan udah kewajiban lo sebagai kakak kelas dong! Kasi contoh yang baik buat ade kelas!"

"Siapa lo?! Ngomong gitu ke gue! Udah bosen sekolah disini ya!"

"Siapa gue? Lo tuh budek ato apa sih! Nama gue Fra. Dan, iya! Gue bosen sekolah disini!"

"Yauda, lo keluar aja!"

"Iya tapi sebelom gue keluar. Gue. Harus. Interview. Lo!" Aku memberi penekanan pada setiap kata.

"Suka-suka gue kale kalo Gak. Mau. Diinterview! Minggir!" Dia membalas memberikan penekanan disetiap katanya.

G.O.D
I hate him so much. Di negara ini ada undang-undangnya gak sih bunuh kakak kelas sengak?! Well, sebenernya aku gak mau bunuh dia juga sih. Hina banget gak sih sampe bunuh-bunuh dia. Dan yang lebih aneh si Giu malah dukung aku bunuh ngebunuh dia. Giu kan sama Timo sodaraan, ya sodara gara-gara sama-sama Lumintang aja sih.

Okay. Stop talkin about him. Nanti dia geer. Aku harus muter otak untuk ngerjain tugasnya. Pilihan terakhirku jatuh kepada, NGARANG! Kalo Timo gak mau di interview aku akan ngarang tugasnya. Ngarang adalah pelajaran paling kusukai. I got A. (And once again it's not arrogant. It's confident:p)

5 menit berikutnya aku sudah berhasil membuat tugas Miss Ing dengan canggihnya. Karena kebohongan ini aku harus mengurangi gengsiku. Aku konfirmasi soal ini ke Timo lewat BBM. Kenapa? Karena aku bohong sama Miss Ing, aku harus kompak. Nanti dia bilang A aku bilang B. Bisa gawat.

FraW: gue udah bikin tugasnya. Gue ngarang. Jadi kalo lo ditanya sama Miss Ing, you'll say yes.

1menit, 2menit, 3menit, sampai menit kelima belom ada balesan. Menit keenam, messageku di read, tanpa balasan. Aku menganggapnya sebagai "yes, I will."
So I guess this is the end of this trouble. Ternyata tidak. I'm having another trouble.

Jumat, 02 Juli 2010

The Best of Us - Giusepina

Huh males banget deh harus senyum-senyum aneh di rumah gara-gara banyak banget yang dateng buat peresmian rumah. Mending keluar cari udara segar. Ya gak?! Tapi bosen juga lama-lama kalo sendirian. Andaikan ada pangeran berkuda putih yang dateng buat ngilangin rasa bosanku.

Pas keluar dari rumah aku gak tau mau pergi kemana. Aku pun berjalan ke manapun kakiku membawaku. Tiba-tiba aja aku udah ada di sebuah taman. Aku duduk aja di bangku taman sambil bengong-bengong gak jelas. Tiba-tiba ada BBM dari Fra yg masuk dan bikin aku kaget setengah mati.

FraW : Giu...... Tau gak lo? Kening gue kejedot pintu mobilnya si Timoleon Lumintang ini. Sakittttttt :(:'(

Giusepina : wah. Ati2 dong, Fra!

FraW : huhuhuhuhu. :(((

Giusepina : eh lumintang? Namanya lumintang?

FraW: iya.knp?

Giusepina : nama kayak nama nyokap gue! Selena Cecilia Lumintang

FraW: jangan2

Giusepina: GAK mungkin! Ogah punya sodara kayak dia, Fra!

Eeeewwwww gila aja klo aku sampe saudaraan sama orang kayak Timoleon. Gak banget.sambil merenungi nasib jika benar Timoleon masih bersaudara denganku tiba-tiba ada seorang anak laki-laki menghampiriku. Kelihatannya dia seumuran denganku. And the most important thing, he looks so cool dateng dengan setelan kemeja putih yg lengannya dilipet, celana panjang hitam, sneakers, dan iPod. Like a naughty boy who went to a party.

“Hi! Lagi bosen ya?” tanyanya.

“Iya. Btw, who are you?” jawabku.

“Gw juga lagi bosen nih. And I’m Oliver. You?”

“Giusepina, but you can call me Giu. Kok lo bisa nyampe d sini?”

“Tadi gw abis dari pesta di situ *sambil nunjuk rumah GIu* terus gw bosen jadi gw ke sini aja…”

“Oohh gitu”

Itu kan rumah gw. Berarti dia nganggep acara di rumah gw ngebosenin dong. Enak banget ngomong kayak gitu. Kalo gw yang ngomong sih gak apa-apa, secara gw yang punya rumah. Tapi kan dia bukan siapa-siapa di keluarga gw. Dasar gak sopan!!! Keren tapi gak sopan.

Tiba-tiba Giu nyadar dari tadi Oliver ngeliatin Giu.

“Apa liat-liat?”

“Lo lucu deh”

“APAAAA?!!”

Tiba-tiba ada mobil sedan hitam lewat di depan taman. Kayaknya tuh mobil familiar. Pernah liat di mana y? Sedan hitam yang tadi lewat berenti di depan rumah. Saking penasaran aku langsung lari pulang. Tiba-tiba ada yang nahan tanganku.

“Aahh Giu mau ke mana? Mending d sini aja temenin gw”

“Hah? Gw mau pulang”

“Ya udah gw ikut”

“Suka-suka lah”

Aku langsung lari pulang secepat-cepatnya. Oliver nyusul di belakang. Pas sampe di rumah. Aku langsung shock. Di dalam rumah ada si TIMOLEON!!!! Kayaknya…

“Giu kamu ke mana aja? Dari tadi mama cariin kamu.” Mama langsung menghampiriku.

“Umm… tadi aku nyari udara seger mi.”

“Pantesan. Oh iya kenalin Giu ini Timoleon sepupu kamu. Anaknya Om Daniel. Sepupunya mami itu loh Giu. Timo ini anak tante Giu”

“Jadi dia sepupuku ma?”

“Iya”

Aaaaahhhhh. Kenapa aku harus beneran sepupuan sama si sombong Timoleon ini? Kayak enggak ada orang lain yang lebih bagus aja buat jadi sepupuku.

“Loh Giu, ini siapa?”

“Aku Oliver Blythe Siddharta tante”

“Oh kamu anaknya Olivia ya?”

“Iya tante”

“Oh ya udah deh ya. Tante tinggal dulu. Jagain Giu ya Timo, Ver.”

Haahhh??? Ngapain banget sih mama suruh Timoleon ama Oliver jagain aku? Aku kan bukan anak kecil lagi yang gak bisa jaga diri. Tapi kesialanku gak sampe di situ aja. Tiba-tiba…

“Hi Timo” Oliver berkata.

“Hi Ver.” Jawab Timo

“Kok kenal?”

“Gw kan juga sekolah di La Madie” jawab Oliver.

“Dan dia masuk klub basket ama gw. Makanya perhatiin dong” sambar Timo

“Ya udah sih santai aja. Dasar sepupu galak”

“Apa lo bilang?”

“Apa aja boleh :p”

“Eh kurang ajar ya ama kakak kelas”

“Bodo amat”

“Aduh jangan berantem dong” kata Oliver.

“Tuh dia duluan” lanjutku.

“IH elo ya. Btw, Liz mana?” Timo berkata

“Tuh di situ” Oliver nunjuk ke ruang tamu.

Timo langsung main jalan aja ke tempat yang ditunjuk Oliver. Aku punya feeling ada sesuatu di antara Timo dan Kak Liz. Pengen nanya ke Oliver. Tapi gengsi. Jadi aku diem aja. Diam adalah emas kata orang-orang. Kediamanku memang membuahkan hasil hehehe.

“Giu, kok diem aja sih?”

“Gak apa-apa.”

“Umm… bosen ya. Gw ngiri deh ama Kak Liz. Dia banyak banget yang ngejar-ngejar. Si Timo aja ngejar-ngejar dia. Tapi gw, adenya. Gak ada cewe yang ngejar-ngejar gw. Padahal kan gw keren.”

“Kak Timo suka Kak Liz? Kak Liz kakak lo?”

“Iya. Lo baru tau?”

“Iya. Btw, buat statement lo yang tadi. Tolong ya jangan kege-eran, sok cakep. Bikin geli tau gak”

“Hehehe. Ya udah lo ama gw aja biar gw gak ke ge-eran.”

“….”