Gak kerasa udah mau ulangan lagi. Kali ini ulangan semester 2. Kenaikan kelas udah di depan mata. Untuk ulangan kali ini semangatku lagi membara-bara untuk belajar. Kan malu kalau aku harus kalah nilai dari Oliver. Walaupun dia pacarku, tetep aja gengsiii. Sekarang dia dan Fra jadi sering datang ke rumah. Rencananya sih untuk belajar bareng, tapi lebih sering ngelantur kemana-mana. Kan mumpung di rumah masih ada si Timoleon yang 'sangat baik hati' mau ngajarin kita semua yang 'tak berdaya' ini.
Di sekolah ada rumor baru yang mengatakan akan ada anak baru pindahan dari luar negeri. Siapa sih orang bego yang mau pindah sekolah di akhir tahun pelajaran, di saat ujian ada di depan mata? Kenapa gak nunggu sampe semester baru yang lebih santai? Tapi entah kenapa saat mendengar rumor itu aku jadi punya firasat yang gak enak banget.
Seminggu sebelum ulangan, kita semua belajar seperti biasa. Dan seperti biasanya juga Oliver menjemputku. Sesampainya d sekolah aku dan Oliver berjalan berdampingan. Ntah kenapa tiba-tiba hari ini Oliver menggandeng tanganku sambil tersenyum.
Ia berkata, "gapapa kan?"
"Emang kalo aku bilang gak boleh kamu bakal ngelepas tanganku?" Jawabku.
"Hmm menurut kamu?"
"Kok malah tanya balik sih?"
"Gak dong hehe" sambil tersenyum dengan sangaaaaattttttt manis.
Tiba-tiba........
"OLIVER!!!!!" Ada seseorang yang memanggil Oliver dengan penuh semangat. Dan aku gak pernah mendengar suara itu sebelumnya. Sontak aku dan Oliver berbalik memandang ke arah suara tersebut. Ternyata yang memanggil Oliver adalah seorang anak perempuan yang gak pernah aku liat sekalipun di sekolah. Dia memasang senyum sumringah bahagia. Dapat dikatakan bahwa ia lumayan cantik.
"Itu anak baru ya?" Bisikku pada Oliver.
"I.....iya" jawab Oliver terbata-bata.
"Kamu kenapa jadi gagap gitu deh?"
"Ngg...nggak kenapa-kenapa kok Giu" jawabnya dengan senyum yang seperti dipaksakan.
"Kamu kenal dia?"
Sebelum Oliver menjawab tiba-tiba gadis itu sudah menghambur kepelukan Oliver. Aku nggak kuat melihatnya. Sakiiittt banget rasanya. Tanpa berkata sepatah katapun aku langsung berlari ke kelas. Ntah kenapa mataku menjadi panas. Aku gak pernah ngerasain yang kayak gini sebelumnya. Rasanya jiwaku udah melayang entah kemana. Dari kejauhan aku sempat mendengar Oliver yang memanggil-manggil namaku. Tapi aku udah gak kuat lagi untuk berpaling menatap dia. Dan di hati kecilku aku bertanya kenapa Oliver gak ngejar??? Dia masih sayang atau gak? Atau gimana sih?? Perasaanku jadi bercampur aduk. Kesal dan sedih.
Hari ini aku duduk dengan Fra, padahal setiap hari semenjak aku jadian sama Oliver aku selalu duduk sama Oliver. Waktu Fra sampai ke kelas dia kaget ngeliat aku udah duduk di bangku samping tempat duduknya dengan mata yang sembab.
"Lo kenapa Giu?" Tanya Fra.
"Gapapa kok" jawabku.
"Jangan bohong deh. Lo kenapa? Terus Oliver mana?"
"Aduhh Fra jangan sebut-sebut namanya lagi deh."
"Emang kenapa sih??"
"Nanti pas masuk lo bakal liat kok. Tenang aja dan sabar aja."
Krriiiiinnnnggggg.................
Bel masuk sudah berbunyi, Oliver dan "teman barunya" masih belum masuk ke kelas. Sampai tiba-tiba wali kelas masuk ke kelas bersama 2 orang gak berguna itu. Anak baru itu masih gelayutan di lengan Oliver tanpa ada sedikitpun rasa bersalah. Oliver juga terlihat tenang.
"Ini Vanka teman baru kalian. Dia murid pindahan dari New Zealand" kata wali kelas.
"Hai. Nama gw Vanka" kata si anak baru dengan muka SOK manis innocent ngeselin yang pingin ditimpuk pake apaan.
Fra yang melihat semua itu langsung tercengang, "Giu....kok si Oliver bisa di situ?"
"Gw gak tau. Pacarnya kali" balasku.
Fra langsung menatapku dengan mata melotot.
Banyak pertanyaan yang tiba-tiba timbul dalam pikiranku. Kenapa Oliver bisa kenal Vanka? Kenapa Oliver santai? Kenapa Oliver gak bilang apa-apa? Kenapa Oliver lebih milih dia? Kenapa Oliver? Kenapa?? Aku gak kuat ngeliat semua itu. Aku langsung bediri dan beranjak keluar dari kelas. Aku juga udah gak perduli dengan wali kelas yang langsung memanggil namaku dan menanyakan kemana aku akan pergi. Aku sendiri nggak tau aku akan pergi kemana. Tiba-tiba aku sudah sampai di depan kelas 'sepupuku tercinta' dan langsung masuk dan berdiri di depannya "Tim, anterin aku pulang" kataku dengan mata yang berkaca-kaca.
Timo yang melihatku berkata seperti itu dengan mata berkaca-kaca langsung keluar bersamaku. Ternyata Fra sudah menyusul dari belakang.
"Giu lo gapapa?" Tanya Fra
Aku hanya bisa menggelengkan kepala.
"Emang kenapa sih?" Tanya Timo.
"Oliver" jawab Fra.
"Ngapain tuh anak?" Timo mulai kesal.
"Udahlah gak usah dibahas. Gw mau pulang. Anterin gw pulang Tim!!" Kataku
"Fine. Ayo kita pulang. Tapi sampe rumah lo harus ngejelasin semuanya sama gw"
Aku hanya terdiam. Akhirnya kami pulang. Fra juga jadi ikut ke rumahku.
Sesampainya di rumah Timo menuntut penjelasan sejelas-jelasnya. Aku menjelaskan semuanya. Tentang Oliver dan Vanka. Juga tentang ketidak jelasan hubungan mereka. Tiba-tiba Timo kesal dengan Oliver.
"Kayaknya tuh anak perlu gw kasih pelajaran deh" kata Timo dengan tampang yang super sangar.
"Udahlah gak usah. Orang kayak gitu diemin aja" balasku.
"Tapi si Oliver emang udh keterlaluan Giu" susul Fra.
"Ya biarin aja deh. Gw pengen liat apa dia punya kesadaran sendiri buat nyamperin gw atau gak" kataku.
Gak lama setelah ngomong gitu tiba-tiba ada suara ketukan pintu. Fra langsung berdiri ingin membuka pintu namun Timo udah jalan duluan.
"Udah biar gw aja yang buka. Lo di sini aja temenin Giu" kata Timo.
Fra hanya mengangguk. Tiba-tiba.....
"Lo masih berani dateng ke sini?? Masih punya nyali?" Terdengar suara Timo yang tiba-tiba jadi kasar.
"Tim.. Gw mau ketemu Giu. Gw mau jelasin semuanya"
Ternyata yang datang adalah Oliver. Ntah kenapa refleks aku langsung berdiri menuju pintu masuk. Fra menyusul.
"Ngapain lo ke sini?" Tanyaku pada Oliver.
"Giu, mending lo masuk deh" kata Timo
"Udah biarin aja Tim. Gw penasaran kenapa dia masih berani dateng ke sini" balasku.
"Giu.... Gw ke sini mau jelasin semuanya" kata Oliver
"Ya udah ayo jelasin!!"
"Vanka itu bukan siapa-siapa aku. Memang dulu dia pacar aku...."
"Oohh gitu. Ya udah sana pacaran gih sama dia." Balasku
"Giu. Aku belom selesai."
"Apalagi hah?"
"Itu tuh dulu Giu. Sekarang tuh aku udah gak ada hubungan apa-apa sama dia. Aku udah gak sayang sama dia. Yg aku sayang tuh......"
Belum selesai perkataan Oliver tiba-tiba ada suara klakson mobil dan ternyata itu mobilnya Vanka. Vanka nyusul Oliver sampe ke rumahku. Oh God. Kenapa rumahku harus tercemar kayak gini??
"Oliver!! Kok kamu ninggalin aku?" Tanya Vanka.
"Hmm...." Oliver gak bisa jawab.
"Ok. It explains EVERYTHING" aku langsung menutup pintu rumahku dan berlari ke arah kamar meninggalkan Fra dan Timo yang masih tercengang di depan pintu. Aku sempat melihat Timo yang akan memberi pelajaran terhadap Oliver namun ditahan oleh Fra. Sebenernya aku gk keberatan juga kalo Timo ngasih pelajaran ke Oliver. Teach him a lesson bro. I don't mind. Dari kamar aku mendengar suara mobil yang pergi ke kejauhan membawa separuh jiwaku.
Jumat, 06 Mei 2011
The Best of Us - Giusepina
Sabtu, 19 Maret 2011
The Best of Us - Fransisca
*2 hari yang lalu*
Pagi itu kakiku sudah lebih baik, setidaknya buat jalan ke kamar mandi bisa lah tanpa dibantu oleh Mas Davis. Setelah menyikat gigi dan berpikir untuk kembali tidur, Mas Davis masuk ke kamarku tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
“Eh, Fra. Cowo lo udah nunggu di bawah tuh!”
“ADUH MAS, UDAH BERAPA KALI AKU BILANG KETOK DULU PINTUNYA BARU MASUK!!” lanjutku “Dan aku tuh gak punya pacar sekarang mas keluar deh aku mau tidur lagi!”’
“HA?! ELO SAMA TIMO BELOM JADIAN?”
“Apaan deh, Mas. Siapa juga yang mau jadian ah! Berisik!”
“Yaudah lo temuin tuh si Timo di bawah, kasian lo gantungin terus!”
Belum sempat aku menjawab kata-kata Mas Davis yang terakhir, dia sudah lebih dahulu keluar kamarku. Dengan langkah tertatih aku turun ke bawah, salah sendiri orang aku gak bilang iya mau dijemput. Timo sudah duduk di ruang tengah dan mengobrol akrab dengan Bunda. Lalu, dia melihatku dan langsung bergegas ke arahku dan langsung membantuku berjalan. Aku yakin 100% wajahku merah padam, Bunda sepertinya melihat wajahku lalu tersenyum penuh arti.
“Terus kenapa masih disini? Pasti bunda udah bilang gue gak sekolah kan?”
“Iya sih, terus?”
“Lah? Kok nanya ke gue? Ya elu pulang lah! Atau ke sekolah buruan dari pada pintu udah ditutup!”
“IQ lo berapa sih, Fra? Gue tuh ikut bolos lah sama kayak lo, ini gue udah siapin baju di mobil.”
“UGH, YAUDAH SIH GAK USAH BAWA-BAWA IQ!”
“Fra, Bunda pergi ke kantor dulu ya, kamu baik-baik di rumah.” Nampaknya bunda jenggah melihat pertengkaran senggitku dengan Timo, dan parahnya Mas Davis pura-pura ada janji keluar rumah sama temannya yang aku yakin he made it up. Sorry to say, Mas Davis gak punya temen kecuali di Prancis sana.
Setelah semua orang pergi dan meninggalkanku dengan kunyuk tanpa rasa bersalah ini aku memutuskan untuk pelan-pelan naik ke kamar. Namun belum satu langkah ada tangan besar yang hangat menggengam tangaku. Entah kenapa irama jantungku berantakan.
“LEPAS! Apa-apaan sih ah!”
“Fra, elah gue gak maksud berantem terus kali sama lo. Bisa gak kita ngomongnya wajar gak ada permusuhan sama sekali?”
“Ya gabisa dong, yang mulai permusuhan ini siapa? Elo kan. Udah deh lo sekarang keluar dari rumah gue, gue mau balik tidur. Tau kan pintu keluarnya dimana?” jawabku sinis.
Aku menaiki tangga perlahan dan kembali tidur. Tiba-tiba suara bb-ku yang ditaruh di meja membangunkanku dari tidur yang panjang, kulihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul 1 siang yang artinya aku tidur selama 8 jam. Kulihat bb-ku kembali ada bbm masuk dari beberapa orang salah satunya cowok yang nabrak aku, dia menanyakan kabarku. Setelah membalas semuanya, aku balas bbm dari Giu.
Giu: HEEEEEYYYY BANGUNNN LO DIMANA????!
Fra: hey, G. Gue di rumah, bolos. See you tomorrowJ
Setelah berkali-kali perutku berbunyi cukup nyaring aku memutuskan untuk turun ke bawah, baru kusadari aku men-skip makan pagiku. Dengan kekuatan dan kesadaran yang masih setengah pasca bangun dari tidur aku melangkahkan kaki ke dapur. Rumah tampak sepi, sepertinya kedua orang tuaku masih pergi kerja dan Mas Davis entah dimana. Di ruang makan aku melihat sesosok cowok mengenakan kaus Topman dan bau parfume soft sedang asik mendengarkan lagu dari headphone Dr. Dre yang sepertinya baru dia beli akhir-akhir ini, dan cowok itu adalah Timo.
“Hey, Fransisca. Are you hungry? Let’s eat.”
“What are you doing here?”
“Me? Waiting for someone to have brunch together.”
Entah kenapa seperti terhipnotis bau parfumnya aku meng-iyakan ajakannya untuk makan dan segera duduk dengan manis di meja makan rumahku sendiri. Baru aku sadari tangan Timo itu kokoh sama seperti pemain basket lainnya, entah kenapa kekesalanku padanya yang kupendam selama ini meluap begitu saja. Sepertinya ada bagian dalam diriku yang menyukai kehadirannya disini dan sebagian lainnya menolak kehadirannya. Dengan sabar dia menyendokkan makanan di depanku ke piring, dengan sabar juga dia mengambilkanku minum.
“Nih, minum dulu. Pasti lo haus banget, tidurnya kebo abis sih. Hihi.” Katanya dengan suara lembut dan senyum kecil.
Aku jadi menyesal tidak menganti baju piyamaku dengan baju yang lebih bagusan dikit untuk menyeimbangi penampilannya yang begitu menawan. Dan ajaibnya lagi aku gak ragu-ragu dan malu untuk menatap wajahnya yang terlihat begitu menarik dan senyumnya yang mampu meluluh lantahkan semua cewek tanpa terkecuali. Sepertinya dia sadar sedang aku pandangi lalu, membelokkan mukanya sedikit kearahku dan tersenyum lembut. Aku mengerjapkan mataku berulang-ulang berusaha menyadarkan diriku dari kenyataan bahwa Timoleon kakak kelasku yang paling aku benci itu berubah 180˚ menjadi Timoleon yang menawan dan memabukkan. Duh, please deh Fransisca Alberthine kamu terlalu hiperbola. He’s still the same Timoleon yang nyebelin.
“Fransisca, makan dong!’
“Hmm, pertama gue mau makan kedua jangan panggil gue Fransisca kalo gamau di panggil Timoleon.”
Entah kenapa Timo mengalah dan kembali dalam diam, dengan sangat elegan dia menyendokan makanan di depannya ke mulutnya satu persatu. Masih dalam diam, sepertinya waktu berjalan lebih lambat dari biasanya.
“BTW, gue mesti check up hari ini. Lo mau sampai kapan disini?”
“Gue anter.”
Masih seperti tersihir aku meng-iyakan setiap permintaannya, dengan cepat aku menghabishkan makananku dan langsung naik ke lantai atas dan mandi lalu berganti pakaian. Tidak sampai 30 menit kami sudah berada di rumah sakit. Karena hari ini hari kerja, antrian tidak terlalu panjang. Setelah memastikan kakiku baik-baik saja dokter memperbolehkanku keluar dan menebus obat.
“Yaudah, lo disini aja, gue tebus obatnya dulu.”
“Ok.” Kataku seraya membuka dompet.
“Eh, gak usah gak apa-apa.”
Setelah 10 menit menuggu, Timo muncul dengan plastik putih ditangannya yang aku asumsikan isinya obat yang harus aku minum sepanjang minggu ini.
“Masa gue laper lagi, mampir mall dulu yuk!”
“HA? Buset iya deh, Tim.”
Untungnya ini bukan jam pulang kantor dan lalu lintas di ibu kota masih termasuk lenggang. Ketika kami sudah sampai di salah satu mall dikawasan Senayan, Timo mengajakku ke gerai burger terkenal. Suasana di dalam mall penuh dengan anak-anak pulang sekolah, situasi itu semakin menyulitkan aku menyamai langkah kaki jenjang Timo. Dia berjalan tanpa memperdulikan kondisi kakiku yang masih agak perih. Setelah beberapa langkah tertinggal, Timo menoleh kebelakang dan mendapati aku bersandar di salah satu tembok pertokoan mall tersebut.
“Kenapa?”
“Apanya yang kenapa? Kok gak lanjutin jalannya?” kataku dengan nada sinis.
“Eh, sorry deh. Gue lupa kaki lo masih sakit, maaf ya.”
Aku menganggukan kepala tanda mengampuni.
“Sekarang jalannya gandengan deh biar lo gak ketinggalan lagi.” Tanpa menunggu persetujuanku, Timo mengandeng tanganku dengan tegas.
Sempat kulihat beberapa abg gaul melihatku dengan tatapan sirik yang entah kenapa malah membuatku sedikit bangga. Berarti benarkan kataku, cewek normal mana yang gak luluh liat Timo hari ini. Setelah makan dan memempuh perjalanan pulang, kami akhirnya sampai di rumahku jam 10 malam. Rasa capek sama sekali gak kurasakan, yang ada malah rasa senang dan bahagia.
“Masuk deh, gue gak mampir lagi ya. Kasian Giu di rumah sendirian.”
“Oh, yaudah deh.” Nada kecewa ketara banget dijawabanku. Sesaat aku bisa melihat Timo tersenyum singkat.
“I have a great day today, thanks to you.”
“Me too, thanks a lot, Tim.” Kataku sambil membuka pintu mobil.
“Fra?” katanya sambil mencegahku turun. “May I kiss your forehead?”
“Ha? Oh, yeah.”
Sesaat berikutnya Timo mendekatkan wajahnya kearah wajahku, wangi parfumnya terasa sampai dihidungku dan entah kenapa aku menyukainya. Aku turun dari mobil dan langsung masuk ke kamarku, rasa hangat ciuman Timo masih dapat kurasakan. Dan baru kusadari line Noah Puckerman di Glee itu benar banget. You can’t choose love, love chooses you..
Minggu, 13 Maret 2011
The Best of Us - Giusepina
Akhirnya aku 'jadian' sama Oliver. Dia jadi sering dateng ke rumah. Nyamperin sambil bawa-bawa cokelat + bunga. Mama dan papa belum tau kalo aku sudah punya 'cwo' karena mereka masih belum pulang juga dari Prancis. Kenapa rasanya laammmaaaaaa banget mereka pulangnya. Aku jadinya masih harus terjebak berasama dengan Timo yang kayaknya sekarang suka Fra.
Tahun 2011 terasa begitu cepat. Tau-tau sudah bulan Februari dan hari ulang tahunku datang. Aku gak terlalu suka sama 'hari ulang tahun' karena 'hari ulang tahun' membuatku berasa tambah tua. Aku kayak kena dilemanya si Bella Swan yang gak mau tua gara-gara Edward Cullen. Tapi untungnya si Oliver gak kayak Edward yang umurnya sama terus. Untung umurnya selalu bertambah sepertiku. Jadi dilemaku gak separah Bella.
Hari itu aku masuk sekolah seperti biasa. Pergi ke sekolah bareng si Timo. Dan bukannya ngucapin happy birthday ke his beloved and lovely cousin, dia malah ngedumel.
"Adoh! Kenapa sih gw harus nganterin lo pagi-pagi?" gerutu Timo
"Ya udah sih. Kan lo juga sekolah," jawabku.
"Kata siapa gw mau sekolah?"
"Emang lo mau bolos?"
"Rencananya sih gitu. Tapi gara-gara lo semuanya GAGAL!"
"Parah banget sih lo"
"Emang pak eko mana sih?"
"Sakit"
"Kenapa lo gak nyetir sendiri?"
"Gak boleh sama mama"
"Aahhh. Tapi bisa kan?"
"Gak" balasku dengan super kesal karena Timo jadi cerewet kayak nenek-nenek.
"Ya udah nanti gw ajarin biar lo gak gannggu-ganggu gw kalo pagi"
"Terserahlah"
Akhirnya kita sampai di sekolah. Si Fra udah nungguin di tempat parkir.
Fra langsung nyamperin, "Giu!!! Happy birthdaaayyyy!!"
"Thank you Fraaa" balasku
Tiba-tiba Timo nyeletuk "emg lo ulang tahun ya Giu?"
"Gak tau!!!" Jawabku
"Ih gw nanya baik-baik ya" balas Timo
"Parah banget sih lo lupa ulang tahun sepupu lo ckckck" ujar Fra.
"....." Entah kenapa Timo jadi keliatan salting waktu Fra ngomong sama dia. Kayaknya ada udang di balik batu nih. Fra gak cerita apa-apa sih sama aku. Aku jadi teringat soal 2 hari yang lalu. Aku gak ketemu Fra sehabis istirahat. Selain itu aku juga gak ketemu..............Timo....... Terus besok paginya waktu aku bangun Timo + mobilnya udah gak ada. Dan sampai di sekolah Timo juga gak ada. FRA JUGA gak ada. Aku baru liat Timo tadi malem. Pulang ke rumah pake seragam tapi gak masuk ke sekolah. Dan Timo keliatan seneng banget. Pas ditanya bilangnya gak apa-apa dan gak kemana-mana. Bohongnya ketauan banget deehh. Ke mana coba si Timo kemaren. "Jangan-jangan dr 2 hari yang lalu sampai kemarin Timo sama Fra barengan?!" pikirku. Akhirnya aku dan Fra masuk ke kelas. Di perjalanan menuju kelas.
"Fra, 2 hari yang lalu lo ke mana deh? Kok abis istirahat gak keliatan sih? Bbm gw juga gak lo bales" tanyaku yang sudah hampir mati penasaran.
"Ohh. Kemaren pas istirahat gw ditabrak anak kelas a yang bawa bahan kimia gitu deh. Terus kaki gw berdarah. Pas di UKS gw disuruh ke rumah sakit. Jadi ya gitu deh," jawab Fra dengan santai.
"Terus sekarang lo gapapa?"
"Gapapa kok."
"Ohh jadi itu alasan kenapa kemaren lo gak masuk"
"Yoe hehehe."
"Kemaren si Timo juga gak masuk" pancingku karena firasatku tentang 'udang di balik batu'
"I know"
"Hah? How do you know?"
"He accompanied me"
"Ooohhhh"
"...."
"Jadi hari ini lo gak basket dong?"
"Gaklah. Mana bisa gw basket dengan kaki kayak gini. Tapi si Reno nyuruh gw duduk di pinggir lapangan biar gak lupa"
"Okay gw temenin ya?"
"Lo mau nemenin gw atau...."
"Atau apa?"
"Atau ngeliat cwo lo tuh si Oliver"
"Apa deh lo Fra"
Akhirnya pelajaran mulai. Hari ini banyak guru yang gak ngajar karena mereka lagi ngawasin anak kelas 3 yang lagi ujian praktek. Jadi jam pelajaran hari ini kerasa bentar. Sepulang sekolah aku dan Fra langsung ke lapangan basket. Di sana..
"Emang lo gak ada ekskul?" tanya Fra padaku.
"Gak tau deh. Kayaknya sih gak ada. Soalnya pembimbingnya sakit katanya" jawabku dengan santai.
Kita udah duduk di pinggir lapangan. Tiba-tiba Oliver + Timo masuk ke lapangan. Mereka pake seragam tim lengkap.
"Lho? Kenapa mereka pake seragam tim deh? Bukannya mereka pake tuh seragam cuma kalo lagi tanding ya?" tanyaku kebingungan.
"Kan hari ini ada sparing. Aduh Giu. Masa lo gak tau jadwal cwo lo sih ckck" canda Fra sambil sok geleng-geleng kepala.
"Giu! Wish me luck" celetuk Oliver dari tengah lapangan sambil melambai kepadaku.
"Ok" jawabku singkat. Mukaku berasa panas saking malunya. Gara-gara Oliver semua orang jadi liatin aku sekarang.
Dan tiba-tiba aku nyadar, waktu Timo masuk ke lapangan dia ngelirik Fra. Fra juga ngeliat ke arah Timo. Kayaknya firasatku soal "udang di balik batu" bener deh. Tiba-tiba Timo nyamperin Fra.
"Wish me luck" ucap Timo sambil ngeliat ke Fra.
"Hm" jawab Fra.
Timo langsung kembali ke lapangan.
"Uhuk uhuk. Ada obat batuk gak Fra? Kayaknya gw mulai batuk nih" godaku.
"Apa sih Giu, jangan bikin bete deh"
"Peace Fra. Damai heheh"
Pantes aja selama 2 hari belakangan ini kayaknya Timo berubah. Ternyata yang bikin dia berubah si Fra. Hebat banget. Padahal mama papanya Timo aja gak pernah bisa bikin Timo berubah.
Mereka tanding selama 3 jam. Dan hasilnya La Madie menaanngg. Waktu peluit berbunyi menyatakan pertandingan selesai dengan hasil La Madie unggul, Oliver langsung belari ke arahku dan memelukku. Dia gak nyadar apa kalo di situ banyak orang dan semuanya jadi ngeliat ke arah kita.
"O-L-I-V-E-R" ucapku.
"I win. We win. Happy birthday and this is your birthday present" balas Oliver.
"Ver, ini diliatin banyak orang. Thanks though" aku langsung tersipu.
"Gapapa lah"
"Malu tau"
"Ah biarin aja hehehe"
"Dan kamu basah semua. Keringetannn. Eeeww"
"Heheheh" balas Oliver dengan tampang yang sok innocent. "Aku bisa menang gara-gara kamu Giu. Karena kamu nonton aku. Jadinya aku semangat gitu. You are my mood booster." lanjutnya.
"Ahahha okay. Tapi sekarang lepas dulu ya. Kamu bener-bener basah semua." balasku sambil melepas pelukan Oliver. Semua orang masih ngeliatin kita. Dan itu sangat memalukan.
"We'll celebrate it this evening"
"Celebrate what?"
"YOUR birthday and MY champion"
"Hmm. Fine"
Akhirnya semuanya pulang. Oliver nganterin aku. Dia suruh aku siap-siap karena 'katanya' he'll be back. So, I'm getting ready. Jam 7 dia jemput. I wear a dress and he wears kemeja lengan panjang + celana panjang hitam. I love him looking like that. That's my favorite look of him. He reminds me waktu peresmian rumahku. He looks majorly cool.
"Kita mau ke mana?" tanyaku. I'm really clueless.
"We'll have dinner" jawabnya.
"Di?"
"You'll see"
Gak lama kita, nyampe di hotel berbintang 5.
"We're here" katanya sambil mengulurkan tangan buat ngegandeng. Bener-bener dengan gaya prince charming. Ckckck.
"Hmm"
Kita langsung ke resto. Ternyata Oliver udah booking tempat buat kita.
"Kita mau dinner di sini?" tanyaku masih kurang yakin.
"Iyalah Giu. Kalo gak ngapain aku ngajak kamu ke sini?" balas Oliver.
"..o..kay"
Di sana kita dinner. Dan tiba-tiba Oliver menyodorkan a blue box.
"Apaan tuh?" tanyaku
"Buka aja" jawabnya
Ternyata isinya kalung. Tulisan huruf 'O'.
"O?"
"Yeah. O buat Oliver hehe. Sini biar aku pakein."
"Namaku kan Giu with G not Oliver with O"
"Giu. Pleasee..."
"Haha okay. I'm just kidding"
"Sini aku pakein" sambung Oliver sambil berdiri dan masangin kalung di leherku. Selesai makan kita pulang dan Oliver mengantarku pulang. Sesampainya di rumahku dia turun untuk ikut mengantarku sampai ke depan pintu rumah.
"Bye my pretty princess. Good night and have a nice dream" kata Oliver. Kata-kata yang membuat jantungku berdebar dan membuatku tersipu malu.
"Okay. Don't make me salting please?"
"Ahaha it's really hard coz I enjoy it. Dan kamu cantik banget kalo lagi salting"
"Ohh PLEASE!"
"Nanti malem aku pasti mimpiin kamu"
"Ahahaha. No joking please"
"Aku serius kok"
"Okay. Bye"
"Bye" balas Oliver sambil ngasih ciuman kilat di dahiku. Sehabis itu dia masih nungguin aku di depan pintu sambil tersenyum manis sampai pintu rumahku tertutup rapat. Rasanya aku pingin teriak saking bahagianya. We're having so much fun that night. I have a great time. Oliver is kinda looks like prince charming today. And he's soo sweet.
Senin, 28 Februari 2011
Timo's side
"I'll do anything for you." Kataku mantap, heran dapat kekuatan dari mana untuk ngomong kayak gini.
Jujur, aku senang banget. Aku mulai dekat dengan keluarga, Fra. Terutama, Mas Davis yang kayaknya tahu kalo aku ada feeling sama Fra. Dia 100% mendukung langkahku ini. Aku dan Mas Davis have a lot of things in common. Dan yang paling penting he speaks French!
Oh ya, I'm over Liz. She always love somebody else not me. Lagian, tipenya Liz tuh udah gak sesuai lagi. Tipeku, yang radikal cuek jutek suka marah tapi aslinya baik dan perhatian. Which is bisa aku lihat dari Fra.
Awalnya, aku kira Fra gak kenapa-kenapa sama orang yang ngerokok. Tapi dari yang aku lihat dimatanya dia kok jadi 100% lebih jutek dari yang ada. Sebenernya aku juga gak sering kok ngerokok, jarang malah. Sebagai atlit basket bukannya dibutuhin nafas yang panjang ya? Kalo, tipe Fra tipe anak baik-baik yang alim dan kuper I'll make myself jadi tipe dia.
Setelah, mengantarnya pulang aku pamit pulang juga. Tampang Fra udah gak enak banget. Mungkin, masih marah. Sesampainya di rumah, aku berpikir keras alasan apa yang harus aku berikan kalo mau telpon Fra.
Dengan memberanikan diri aku keluarkan bb disaku celanaku. Dering pertama, dering kedua, dering ketiga baru diangkat.
"Halo?" Sapanya dengan suara lelah.
"Hai, Fra. Gue udah sampe rumah."
"Oh."
"In case you want to know, jadi gue kasi tau."
"Oh."
Ayo cari topik, Tim! Lo pasti bisa! Kataku dalam hati.
"Ehm, udah mandi?"
"Udah, lo?"
"Belom, kan baru sampe hehe. Udah mau tidur ya?"
"Iya, about to. Until someone's annoying call me."
"Gue? Sorry, ya."
"Ehm, iya."
"Okay, selamat tidur ya. Jangan lupa minum obatnya."
"Errr, iya. Lo juga selamat tidur tapi mandi dulu."
"Bye."
"Bye."
"Eh! Fra!"
"Lo paling bisa bikin orang kaget ya! Duh!"
"Besok gue jemput ya, bye!" Kataku sambil memutuskan telpon.
Sekarang aku mandi dan tidur dulu, besok harus bangun pagi dan dandan yang bener buat jemput, Fra! Adios!
Sabtu, 26 Februari 2011
The Best of Us - Fransisca
I need my holiday. like seriously, mataku masih butuh tidur banget. rasanya badanku lagi gak bersahabat hari ini. moodku juga berantakan. dan yang lebih parah aku jadi pelupa (emang sih udah suka lupa tapi ini lebih parah lagi)
"FRA! WATCH OUT!!!!"
*bruk*
"APAAN SIH GILA YA? gapunya mata lo ha? nabrak gue?"
"Sorry, Fra. Sumpah gak sengaja."
Ha. this is the worst day ever. anak class a menabrakku and he's carrying something for chemistry laboratory. Rok seragamku basah dan kaki kiriku mulai perih. yang lebih parahnya itu adalah cairan HCl yang bersifat asam. Dengan kesal aku melangkahkan kaki ke rest room Lamadie. karena ada pecahan dari burrette yang dia bawa kaki kiriku berdarah, dan darahnya gak mau berhenti. dengan kekelsalan stadium akhir aku melangkahkan kaki ke UKS. seorang guru penjaga menghampiriku dengan wajah cemas.
"Come, fast."
"Yes, Ma'am." jawabku singkat.
"What happend?"
"nabrak anak yang bawa solution dan kayaknya ada pecahan kacanya."
"Ok, hold on. tahan sebentar, saya akan mengeluarkan pecahannya."
setelah menunggu beberapa menit dia datang membawa perlatan seperti dokter. i'm wondering kenapa Lamadie bisa punya peralatan secanggih ini. sekarang giliran aku yang deg-degan sepertinya guru penjaga ini amatrian dan gak ngerti apa-apa. dengan kasar dia menarik pecahan kaca itu, alhasil kakiku tambah berdarah.
"udah deh ma'am. i'm going to hospital." aku mengambil bbku di saku celana.
"Halo Mas Davis? bisa jemput ga? sekarang. ada orang nabrak aku terus kakiku kena pecahan kaca. harus ke rumah sakit sekarang juga.parah nih."
"Parah? Banget? Gue minta Timo anter lo sekarang karena gue lagi di bakery nih bantuin bunda, gue secepatnya ke rumah sakit oke. take care."
"Halo? MAS? MAS?"
Sial! Dimatiin telponnya, gak berapa lama si Timoleon udah menghampiriku di ruang UKS.
“Hei, kata Mas Davis lo sakit? Ayo gue anter ke rumah sakit.” Tanpa mendengar balasanku dia menggengam tanganku dan menaikkanku ke pundaknya. Aku berusaha menepis namun tangannya mencengkram tanganku keras.
“Gausah berontak, dari pada kaki lo cedera lebih jauh. Mending malu deh, ini juga gue malu diliatin satu sekolah.”
“Ya makanya, lo lari cepet.”
Gak berapa lama, kita udah sampe di rumah sakit dan yang bikin aku tambah emosi adalah Mas Davis udah disana, which is dia ngerjain aku sebenernya dia bisa jemput aku di sekolah. Karena Ayah adalah salah satu kolega dari dokter rumah sakit ini aku didulukan. It took only 10 minutes for him to take all the glasses in my leg, tapi gara-gara ada Timo berasa jadi 10 century. God, aku jenggah banget dengan rasa cemas dan perhatian Timo. Mas Davis lagi, dia takut sama darah jadi gak bisa menemaniku.
Setelah kakiku diperban dan menebus obat untuk penghilang bekas luka, kita bertiga ke kantin rumah sakit. Aku sadar dari pagi belum makan jadi makanan rumah sakit yang yikes banget ini kerasa enak. Ditengah-tengah keasikanku makan, tiba-tiba Mas Davis pura-pura ambil bbnya dan sok-sok dipanggil Ibu ke butik untuk menjemputnya.
“Sorry lagi ya, Tim. Kayaknya lo nih yang harus anter, Fra.”
“It’s ok kok, Mas. I’ll take her.”
“C'est une bonne chance pour vous. Bonne chance!1”
“Haha, grĂ¢ce2”
I officially lost my appetite begitu Timo membuka sebungkus rokok.
“You smoke?”
“Kalo lagi bosen. Lo mau?”
“Yaks, engga thanks. Gue duluan deh ke mobil lo disini aja deh, and please remember this is hospital YOU CAN’T SMOKE HERE.” Kataku judes sambil memberi penekanan.
Oh dear, I can’t stand it anymore. Timoleon is definitely not my type.
“Tunggu-tunggu, Fra.” Timo mengejarku keparkiran, dengan kaki yang diperban seperti ini tentunya sulit untukku lari menjauh darinya.
“apa?” kataku judes.
“Kaki lo masih sakit kan? I’ll take you a wheel chair, tunggu bentar aja.” Katanya sabar.
Dia membukakan pintu untukku dan menggendongku masuk. Aku sama sekali gak bisa berontak karena memang kakiku bener-bener sakit dan pedih. Jarak rumah sakit dan rumahku memang jauh ditambah kemacetan ibu kota dan hujan jadi tambah lama. Situasi awkward ini benar-benar bikin aku malas, lalu aku menyalakan radio dan herannya Timo juga mengerakkan tangannya ke tombol on. Dengan cepat, aku tarik tanganku dari radio.
“Ehm, sorry.” Katanya tulis.
Aku membalasnya dengan anggukan dan tetap hening lalu menatap keluar jendela.
“Fra, I’m sorry.”
“Duh, iya-iya. I forgive you.” Gah, how many times sih dia mau minta maaf?
“Bukan soal radio itu. Soal gue ngerokok.”
“Why? That’s not my business. That’s your lungs that your burn, and that’s not my money you burn.” Lanjutku “Lagian, I’m not your mom. Kalo, I’m your mom udah gue usir lo dari rumah, sakit-sakit gue ngelahirin lo, lo bakar tuh paru-paru lo.”
“Tapi..” Dia memotong.
“And I’m not your dad, kalo gue bapak lo udah gue usir lo dari rumah, susah-susah gue cari duit malah lo bakar.”
“But..” Dia memotong lagi.
“Dan juga, I’m not your girl, rajin-rajin gue ke dentist sama sikat gigi pagi-siang-malam cuman buat kiss a smoker.” Tutup pidato singkatku.
Dia tampak takjub dengan pidato singkatku, dia menoleh ke arahku lalu menatapku. Untung, ini macet.
“Ok, I stop smoking.” Katanya mantap.
“That’s your decision, I’m nothing to you.”
“Iya, I know. But, I promise you I stop smoking. I’ll do anything for you…”
1. This is a good chance. Good luck!
2. Thanks
Selasa, 04 Januari 2011
The Best Of Us - Giusepina
Hmm aku masih melarikan diri "lagi" dari si Oliver untuk gak tau yang kesekian kalinya. Pertanyaan sama yang dia kasih gak pernah aku pikirin sungguh-sungguh. Untung aku ketolong buat menjawab pertanyaan itu nanti dengan alasan "mau ada ulangan" yang gak pernah aku pikirkan secara sungguh-sungguh.
Contohnya kemarin yang harusnya aku belajar math + chemist bareng Fra d rumah turned out jadi nobar P.S I Love You. Apalagi ditambah si TimTimo yang ikutan nonton. It's just a big WOW. I think sekarang Timo beneran suka ama Fra 100%. Timo sampe nganterin Fra pulang. Memang sih I've been set this up. Tapi gak nyangka banget Timo beneran mau nganterin Fra. Apalagi pas Fra nge BBM aku kalo Timo sampe ketemu sama keluarganya. It's a huge WOW. Sampe rumah Timo langsung aku wawancara. Aku kupas habis. I think he enjoyed it to be with Fra's family especially with Mas Davis kakaknya Fra. Hmm bisa jadi calon kakak iparnya Timo tuh.
Gak kerasa ulangan umum yang dimulai dengan math + chemist selesai juga. Christmas and New Year are waiting. Untung report card akan dibagi sehabis liburan. Kalau gak mungkin aku sudah stress duluan. Tapi sedih banget Christmas + New Year tahun ini gak ada mama dan papa. Aku jadi harus menghabiskan liburan dan acara-acara bareng Timo. Seru sih kalo dia lagi good mood tapi kalo udah bad mood Timo bener-bener minta dibunuh. Untungnya Christmas Eve kali ini Timo is in a good mood. Kita bikin acara kecil-kecilan di rumah. Daripada bengong. Aku ngundang Fra. Sedangkan Timo ngundang Kak Liz, Oliver, and Reno si orang yang lebih ngeselin daripada Timo. Aku bingung. Sebenarnya apa Timo masih suka sama Kak Liz atau entahlah.
Acara kali ini SUPER seru. Lebih seru kalo gak ada si Reno yang mengganggu pemandangan. Aku sempat narik Timo buat aku interogasi alasan kenapa dia harus bawa si Reno.
"Tim, kenapa kamu ngundang Reno coba?"
"Yah biarin aja sih. Emang kenapa? Keberatan?"
"Rumahku jadi tercemar tau gak. Jangan bilang kamu mau cari muka biar selalu jadi tim inti ya?"
"Huh? Sorry ya. Gak usah kayak gini I'll always be in the team. As a CAPTAIN"
"Sok kamu"
Reno's really annoying. Dia sok baik gitu nyapa-nyapa.
"Hi Giu. Thanks for inviting me"
"Hmm"
Padahal yang ngundang Timo gitu bukan aku. Kalo bisa juga aku gak mau Reno ada di sini. Dan kayaknya yang terganggu dengan adanya Reno bukan hanya aku tapi Fra juga. Lagian buat apa coba dia diundang?? Dan dengan jawabanku yang tadi sepertinya dia sadar kalo aku kesel banget sama dia.
"And I'm sorry"
"For what?"
"Udah nyuruh kamu lari lapangan. Padahal kamu gak ikut ekskul basket"
"Oh.."
Untung si Oliver datang. Thanks God. "Giu!!!"
"Hah?"
"Ayo nonton itu udah dipanggil yang lain"
"Okay" aku langsung pergi dengan Oliver. Biarin aja si Reno sendiri. Dia ngeselin gitu sih.
Acara kita mulai dari makan-makan sampai nobar *lagi*. Pas lagi nonton aku baru nyadar kalo si Reno ngedeketin Fra dan Timo ngedeketin Kak Liz. 'WHAATT?? Gak salah ya?' Pikirku. Tiba-tiba si Oliver datang. Aduhh kenapa sih si Oliver selalu datang di saat yang gak tepat? Bikin kesel banget. Dan dia selalu menanyakan hal sama yang setiap kali ketemu aku selalu ditanya.
"Giu, please answer me. Sekarang kan udah gak ulangan umum lagi. So, would you be my GF??"
"Hmm gimana ya? Bingung.."
"Could you please just answer me?"
"I'm confuse. Really confuse"
"I really love you."
"..."
"Please answer me"
Okay, Oliver makes my heart beats faster. Lama-lama aku capek juga selalu ditanya hal yang sama. Jadi, aku jawab saja....
